Latest Entries »

GIRO PIHAK KE3

vGIRO

 

GIRO merupakan simpanan masyarakat pada bank yang penarikannya dapat dilakukan dengan menggunakan cek, surat perintah bayar yang lain, bilyet giro atau surat pemindahbukuan yang lain.

 

vNext..

Giro dapat ditarik setiap saat sehingga giro dikelompokkan sebagai sumber dana jangka pendek bagi bank.

 

Penarikan dana giro oleh pemilik rekening hanya dapat dilakukan dengan cara perintah tertulis dari pemiliknya sebagai dasar resmi otorisasi pendebetan rekening nasabah oleh bank.

Penarikan ini dapat dilakukan sewaktu-waktu nasabah menghendaki dimana bank akan menguji kebenaran nomor rekening, tanda tangan, kecukupan saldo dan informasi lainnya.

 

vSifat Rekening

 

Rekening giro merupakan hutang jangka pendek bank yang harus disajikan dalam hutang lancar. Setiap kali terjadi mutasi pertambahan rekening giro nasabah akan dibukukan disebelah kredit dan setiap terjadi pengurangan rekening giro nasabah akan dibukukan disebelah debet.

vNext..

Apabila saldo suatu rekening giro nasabah berada pada sisi debet maka rekening tersebut bersaldo negatif atau dalam dunia perbankan dikenal dengan saldo merah atau terjadi overdraft (bersaldo negatif).

 

Apabila terjadi overdraft maka kepada pemegang giro tidak dapat lagi menarik dananya dan kepada nasabah tidak akan diberikan bunga atau jasa giro melainkan dibebankan sejumlah biaya atau beban bunga.

vAkuntansi Giro

Pada saat pembukaan rekening giro, nasabah (giran) diberikan beberapa ketentuan antara lain:

§Saldo minimum
§Cara penarikan/ penyetoran
§Jasa giro
§Saldo penutupan
§Biaya administrasi
§Ketentuan lain
vNext..
§Transaksi giro dicatat sebesar nilai nominal dan disajikan sebesar nilai kewajiban bank kepada kepada nasabah.
§Nilai nominal adalah nilai nominal setoran/ penyetoran.
§Nilai kewajiban adalah nilai saldo setelah mengalami mutasi pendebetan atau pengkreditan.
vNext..
§Pada posisi normal giro akan selalu bersaldo kredit.
§Pada kondisi tertentu giro bisa bersaldo debet. Hal ini terjadi bila nasabah (giran) melakukan transaksi penarikan yang melebihi saldo giro yang dimilikinya.
§Saldo negatif terjadi karena bank memberikan talangan / cerukan terlebih dahulu atau overdraft.
§Overdraft diperlakukan sebagai pemberian kredit kepada nasabah.
vNext..
§Dalam hal mutasi giro bisa diketahui apakah giro tersebut tergolong aktif atau pasif.
§Giro dianggap pasif bila selama 6 bulan berturut-turut tidak mengalami mutasi dan saldo dibawah saldo minimal.
§Giro pasif akan dikenakan biaya administrasi tiap bulan sampai giro bersaldo nol dan ditutup sepihak oleh pihak bank.
§
vPembukuan Transaksi Giro

Transaksi Pembukaan Rekening Giro

Tuan A membuka rekening giro pada Bank Omega Cabang Jakarta dan menyetor tunai sejumlah                     Rp 100 juta serta membayar semua biaya administrasi berupa penerbitan buku cek sebesar Rp 50.000,00.

Jurnal:

D  : Kas  Rp 100.050.000

K  : Giro – Rek Tuan A  Rp 100.000.000

K  : Barang Cetakan –

Buku Cek  Rp         50.000

vPenyetoran dengan warkat

Tuan A menyerahkan cek Bank ABC yang diterima dari Tuan B sebesar Rp 10.000.000 untuk disetorkan ke rekening gironya.

JURNAL BANK OMEGA

Jurnal saat penyetoran warkat:

D  : Bank Indonesia-Giro  Rp 10.000.000

K  : Warkat Kliring  Rp 10.000.000

 

Jurnal saat kliring dinyatakan berhasil:

D  : Warkat kliring  Rp 10.000.000

K  : Giro – Rek Tuan A  Rp 10.000.000

v

JURNAL BANK ABC

 

D  : Giro-Rek Tuan B  Rp 10.000.000

K  : Bank Indonesia-Giro  Rp 10.000.000

vPenyetoran melalui transfer

Tuan A menerima transfer dari rekannya Tuan C nasabah Bank Surya sebesar Rp 5.000.000.

 

JURNAL BANK OMEGA

D  : Bank Lain-Giro  Rp 5.000.000

K  : Giro-Rek Tuan A  Rp 5.000.000

 

JURNAL BANK SURYA

D  : Giro-Rek Tuan C  Rp 5.000.000

K  : Bank Lain-Giro  Rp 5.000.000

vTransaksi Penarikan Tunai

Tuan A menarik selembar cek senilai                                                   Rp 15.000.000 untuk dibayarkan oleh bank secara tunai.

 

D  : Giro-Rek Tuan A  Rp 15.000.000

K  : Kas Rupiah  Rp 15.000.000

vPenarikan Secara Kliring

Tuan A menerbitkan cek senilai Rp 4.000.000 dan memerintahkan Bank Omega agar diserahkan untuk keuntungan Tuan D nasabah Bank Lippo.

 

JURNAL BANK OMEGA

D  : Giro-Rek Tuan A  Rp 4.000.000

K  : BI-Giro  Rp 4.000.000

 

JURNAL BANK LIPPO

D  : BI-Giro  Rp 4.000.000

K  : Giro-Rek Tuan D  Rp 4.000.000

vPenarikan Dengan Amanat

Tuan A memerintahkan Bank Omega cabang Jakarta untuk mendebet rekening gironya sebesar Rp 2.000.000 untuk dipindahbukukan ke rekening Tuan E nasabah Bank Omega Cabang Surabaya.

BANK OMEGA JAKARTA

D  : Giro-Rek Tuan A  Rp 2.000.000

K  : RAK – Cab Surabaya  Rp 2.000.000

 

BANK OMEGA SURABAYA

D  : RAK – Cab Jakarta  Rp 2.000.000

K  : Giro-Rek Tuan E  Rp 2.000.000

vPembukuan Jasa Giro

Bank Omega memberikan jasa giro atas rekening Tuan A sebesar Rp 200.000.

 

Jurnal:

D  : Beban bunga – Giro  Rp 200.000

K  : Giro – Rek Tuan A  Rp 200.000

vTransaksi

Transaksi yang dilakukan oleh Putra di Bank BA Solo selama bulan Maret 2008:

1.Dibuka rekening giro atas nama Putra dengan setoran perdana Rp 1.000.000 secara tunai. Barang cetakan berupa buku cek dan bilyet giro sebesar Rp 100.000 dibayar tunai.
2.Putra setor tunai untuk giro sebesar Rp 500.000
3.Putra menyetor giro berupa cek Bank YIK Solo sebesar Rp 1.500.000 dan kliring dinyatakan berhasil.
4.Putra menarik cek sebesar Rp 500.000 untuk diserahkan kepada Putri nasabah Bank ABC dan pada hari itu juga Putri menyetorkan cek tsb.
vNext..
5.Pada hari ini Putra mentransfer dananya kepada Dewa nasabah cabang Semarang atas beban gironya sebesar Rp 1.000.000
6.Putra setor giro secara tunai sebesar                   Rp 750.000  di cabang Jakarta.
7.Bank BA menerima transfer masuk dari Cabang Bandung sebesar Rp 1.200.000 untuk rekening Tuan Putra.
8.Penarikan giro oleh Putra ditransfer ke Cabang Semarang sebesar Rp 2.000.000 untuk rekening giro Dewi.
v

 

•a. Pengertian
•Dalam PAPI pengertian kewajiban segera adalah kewajiban bank kepada pihak lain yang sifatnya wajib segera dibayarkan sesuainperintah pemberi amanat atau perjanjian yang ditetapkan sebelumnya.
•b. Jasa Inkaso
•Inkaso adalah penagihan warkat kliring (Cek/ BG atau warkat lain) melalui kantor cabang bank kepada bank penerbit warkat kliring di luar wilayah kliring.
•Inkaso dibedakan menjadi 2 yaitu:
•Inkaso keluar
•Inkaso masuk

Inkaso Keluar

Kegiatan penerimaan warkat-warkat dari nasabah yang akan ditagihkan/ diinkasokan ke cabang lain atau bank lain diluar wilayah kliring untuk ditukarkan dengan dana.

Inkaso Masuk

•Kegiatan penerimaan warkat-warkat inkaso dari kantor cabang bank yang sama diluar wilayah kliring atas beban rekening nasabah yang ditatausahakan dibank yang bersangkutan atau bank lain.

Mekanisme Inkaso

Inkaso keluar

1.Teller bank :
•menerima setoran dari nasabah
•Setoran nasabah tersebut berupa warkat bank lain baik sekota maupun luar kota.
•Warkat yang sekota diselesaikan dengan kliring
•Warkat dari bank luar kota diselesaikan dengan inkaso.

2. Petugas Inkaso bank :

•Mencatat informasi yang berhubungan dengan warkat yang akan dikirimkan.
•Menyampaikan warkat yang akan dikirimkan kepada pejabat bank untuk dicek kebenarannya.
•Apabila sudah benar kemudian dimintakan persetujuan pejabat bank.

3. Pejabat Bank

•Pejabat bank melakukan pemeriksaan warkat.
•Apabila telah sesuai kemudian menandatangani daftar inkaso tersebut.
•Menyerahkan kepada petugas ekspedisi untuk diagendakan dan dikirimkan kekantor cabang bank tujuan.

Mekanisme Inkaso

Inkaso Masuk

1.Petugas Inkaso bank :
•menerima amplop dari petugas ekspedisi yang berisi warkat-warkat dan mengecek warkat tersebut.
•Apabila telah cocok kemudian warkat tersebut diserahkan ke teller untuk dibukukan.

2.  Teller Bank :

•Memeriksa kebenaran pengisian warkat
•Membukukan warkat inkaso yang akan dikliringkan ke bank lain.
3.Petugas Kliring
•Petugas inkaso menerima warkat kliring untuk dikliringkan.

 

•c. Transfer
•Transfer merupakan kegiatan penyelesaian permohonan pemindahbukuan uang/ dana dari satu kantor cabang ke cabang lainnya atau bank korespondennya di luar negeri yang dilakukan melalui sarana komunikasi yang telah dilengkapi dengan berbagai alat pengaman, diawali dengan permohonan transfer dari nasabah diteruskan bank dengan instruksi untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada orang yang disebutkan namanya dalam transfer tersebut.

 

 

•Jenis Transfer

Transfer dibedakan menjadi dua yaitu:

1.Transfer Keluar yaitu kegiatan penerimaan permohonan transfer dari nasabah untuk dikirimkan kepada orang lain yang berada di luar kota atau luar negeri.
2.Transfer masuk adalah kegiatan penerimaan pesan/ instruksi transfer dari kantor cabang lain atau bank korespondensi luar negeri untuk diteruskan ke pada penerima baik secara pemindahbukuan maupun secara tunai.
•d. Jasa Penerimaan Setoran PajAK
•Penerimaan setoran pajak dilakukan oleh bank setiap hari, sedangkan pelimpahan setoran pajak ke rekening kas negara dilakukan seminggu dua kali.
•e. Jasa Pembelian dan Penjualan Cek Perjalanan
•Cek perjalanan merupakan fasilitas yang dapat menggantikan fungsi uang tunai dan dapat diuangkan/ dicairkan diseluruh unit kerja bank penerbit.
•Dengan cek perjalanan tersebut pemegang cek tidak perlu repot membawa uang tunai dalam jumlah besar, karena fungsinya dapat digantikan oleh cek perjalanan.
•f. Jasa Pembayaran Tagihan Telepon
•Bank bekerjasama dengan kantor PLN untuk menerima pembayaran tagihan PLN dari masyarakat pelanggan PLN. Hasil penerimaan pembayaran tersebut kemudian dilimpahkan ke rekening PLN pusat. Atas pelayanan tersebut bank menerima fee dari kantor pusat PLN.
•g. Jasa Pembayaran Tagihan Telepon

Bank bekerjasama dengan kantor Telkom untuk menerima pembayaran tagihan Telkom dari masyarakat pelanggan Telkom . Hasil penerimaan pembayaran tersebut kemudian dilimpahkan ke rekening Telkom pusat. Atas pelayanan tersebut bank menerima fee dari kantor pusat Telkom .

 

•h. Jasa Pembayaran Tagihan Telkomsel
•Bank bekerjasama dengan kantor Telkomsel untuk menerima pembayaran tagihan Telkomsel dari masyarakat pelanggan Telkomsel . Hasil penerimaan pembayaran tersebut kemudian dilimpahkan ke rekening Telkomsel pusat. Atas pelayanan tersebut bank menerima fee dari kantor pusat Telkomsel .

 

TUJUAN

Informasi tentang arus kas suatu perusahaan berguna bagi para pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan arus kas tersebut. Dalam proses pengambilan keputusan ekonomi, para pemakai perlu melakukan evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas serta kepastian perolehannya . Tujuan Pernyataan ini adalah memberi informasi historis mengenai perubahan kas dan setara kas dari suatu perusahaan melalui laporan arus kas yang mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi maupun pendanaan (financing) selama suatu periode akuntansi.

 

RUANG LINGKUP

Perusahaan harus menyusun laporan arus kas sesuai dengan persyaratan dalam Pernyataan ini dan harus menyajikan laporan tersebut sebagai bagian yang tak terpisahkan (integral) dari laporan keuangan untuk setiap periode penyajian laporan keuangan.

Para pemakai laporan ingin mengetahui bagaimana perusahaan menghasilkan dan menggunakan kas dan setara kas. Hal tersebut bersifat umum dan tidak tergantung pada aktivitas perusahaan serta apakah kas dapat dipandang sebagai produk perusahaan, seperti yang berlaku di lembaga keuangan. Pada dasarnya perusahaan memerlukan kas dengan alasan yang sama meskipun terdapat perbedaan dalam aktivitas penghasil pendapatan utama (revenue-producing activities). Perusahaan membutuhkan kas untuk melaksanakan usaha, untuk melunasi kewajiban, dan untuk membagikan dividen kepada para investor. Pernyataan ini mewajibkan semua perusahaan menyajikan laporan arus kas.

KEGUNAAN INFORMASI ARUS KAS

  • Jika digunakan dalam kaitannya dengan laporan keuangan yang lain, laporan arus kas dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pemakai untuk mengevaluasi perubahan dalam aktiva bersih perusahaan, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan untuk mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dalam rangka adaptasi dengan perubahan keadaan dan peluang.
  • Informasi arus kas berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan memungkinkan para pemakai mengembangkan model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang dari arus kas masa depan (future cash flows) dari berbagai perusahaan.
  • Informasi tersebut juga meningkatkan daya banding pelaporan kinerja operasi berbagai perusahaan karena dapat meniadakan pengaruh penggunaan perlakuan akuntansi yang berbeda terhadap transaksi dan peristiwa yang sama.
  • Informasi arus kas historis sering digunakan sebagai indikator dari jumlah, waktu, dan kepastian arus kas masa depan.
  • informasi arus kas juga berguna untuk meneliti kecermatan dari taksiran arus kas masa depan yang telah dibuat sebelumnya dan dalam menentukan hubungan antara profitabilitas dan arus kas bersih serta dampak perubahan harga.

 

Beberapa istilah yang dipergunakan dalam laporan arus kas, masing-masing didefinisikan sebagai berikut:

  • Kas terdiri dari saldo kas (cash on hand) dan rekening giro.
  • Setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang signifikan.
  • Arus kas adalah arus masuk dan arus keluar kas atau setara kas.
  • Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan (principal revenue- producing activities) dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan .
  • Aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan aktiva jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas.
  • Aktivitas pendanaan (financing) adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman perusahaan.

 

PENYAJIAN LAPORAN ARUS KAS

Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasi menurut aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.

Suatu transaksi tertentu dapat meliputi arus kas yang diklasifikasi ke dalam lebih dari satu aktivitas. Sebagai contoh, jika pelunasan pinjaman bank meliputi pokok pinjaman dan bunga, maka bunga merupakan unsur yang dapat diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi dan pokok pinjaman merupakan unsur yang diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan.

 

Aktivitas Operasi

Jumlah arus kas yang berasal dari aktivitas operasi merupakan indikator yang menentukan apakah dari operasinya perusahaan dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan pada sumber pendanaan dari luar. Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan. Oleh karena itu, arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba atau rugi bersih.

Beberapa contoh arus kas dari aktivitas operasi adalah:

  • penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa;
  • penerimaan kas dari royalti, fees, komisi dan pendapatan lain;
  • pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa;
  • pembayaran kas kepada karyawan;
  • penerimaan dan pembayaran kas oleh perusahaan asuransi sehubungan dengan premi, klaim, anuitas dan manfaat asuransi lainnya;
  • pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak penghasilan kecuali jika dapat diidentifikasikan secara khusus sebagai bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi;
  • penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak yang diadakan untuk tujuan transaksi usaha dan perdagangan.

 

Perusahaan harus melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan salah satu dari metode berikut ini:

a)     metode langsung: dengan metode ini kelompok utama dari penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto diungkapkan; atau

b)     metode tidak langsung: dengan metode ini laba atau rugi bersih disesuaikan dengan mengoreksi pengaruh dari transaksi bukan kas, penangguhan (deferral) atau akrual dari penerimaan atau pembayaran kas untuk operasi di masa lalu dan masa depan, dan unsur penghasilan atau beban yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan .

 

Aktivitas Investasi

Pengungkapan terpisah arus kas yang berasal dari aktivitas investasi perlu dilakukan sebab arus kas tersebut mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan.

Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas investasi adalah:

  • pembayaran kas untuk membeli aktiva tetap, aktiva tak berwujud, dan aktiva jangka panjang lain, termasuk biaya pengembangan yang dikapitalisasi dan aktiva tetap yang dibangun sendiri;
  • penerimaan kas dari penjualan tanah, bangunan dan peralatan, aktiva tak berwujud dan aktiva jangka panjang lain;
  • perolehan saham atau instrumen keuangan perusahaan lain.
  • uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain serta pelunasannya (kecuali yang dilakukan oleh lembaga keuangan) .
  • pembayaran kas sehubungan dengan futures contracts, forward contracts, option contracts dan swap contracts kecuali apabila kontrak tersebut dilakukan untuk tujuan perdagangan (dealing or trading), atau apabila pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan;

 

Perusahaan dianjurkan untuk melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan metode langsung. Metode ini menghasilkan informasi yang berguna dalam mengestimasi arus kas masa depan yang tidak dapat dihasilkan dengan metode tidak langsung.

Dengan metode langsung, informasi mengenai kelompok utama penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto dapat diperoleh baik:

  1. dari catatan akuntansi perusahaan; atau
  2. dengan menyesuaikan penjualan, beban pokok penjualan dan pos-pos lain dalam laporan laba rugi untuk:
  • perubahan persediaan, piutang usaha, dan hutang usaha selama periode berjalan;
  • pos bukan kas lainnya; dan
  • pos lain yang berkaitan dengan arus kas investasidan pendanaan.

 

Dalam metode tidak langsung, arus kas bersih dari aktivitas operasi ditentukan dengan menyesuaikan laba atau rugi bersih dari pengaruh:

a)     perubahan persediaan dan piutang usaha serta hutang usaha selama periode berjalan;

b)     pos bukan kas seperti penyusutan, penyisihan, pajak ditangguhkan, keuntungan dan kerugian valuta asing yang belum direalisasi, laba perusahaan asosiasi yang belum dibagikan dan hak minoritas dalam laba/rugi konsolidasi; dan

c)      semua pos lain yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan. Sebagai alternatif, berdasarkan arus kas bersih dari aktivitas operasi dapat dilaporkan (tidak langsung) dengan menyajikan pendapatan dan beban yang diungkapkan dalam laporan laba rugi serta perubahan dalam persediaan, piutang usaha dan hutang usaha selama periode.

 

Aktivitas Pendanaan

Pengungkapan terpisah arus kas yang timbul dari aktivitas pendanaan perlu dilakukan sebab berguna untuk memprediksi klaim terhadap arus kas masa depan oleh para pemasok modal perusahaan.

Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan adalah:

  • penerimaan kas dari emisi saham atau instrumen modal lainnya
  • pembayaran kas kepada para pemegang saham untuk menarik atau menebus saham perusahaan
  • penerimaan kas dari emisi obligasi, pinjaman, wesel, hipotik dan pinjaman lainnya o pelunasan pinjaman
  • pembayaran kas oleh penyewa guna usaha (lessee) untuk mengurangi saldo kewajiban yang berkaitan dengan sewa guna usaha pembiayaan (finance lease).

 

PENYAJIAN LAPORAN ARUS KAS

Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasi menurut aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.

 

Pelaporan Arus Kas dari Aktivitas operasi

Perusahaan harus melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan salah satu dari metode berikut ini: (a) metode langsung: dengan metode ini kelompok utama dari penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto diungkapkan; atau (b) metode tidak langsung: dengan metode ini laba atau rugi bersih disesuaikan dengan mengoreksi pengaruh dari transaksi bukan kas, penangguhan (deferral) atau akrual dari penerimaan atau pembayaran kas untuk operasi dimasa lalu dan masa depanf dan unsur penghasilan atau beban yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan.

 

Pelaporan Arus Kas dari Aktivitas Investasi dan Pendanaan

Perusahaan harus melaporkan secara terpisah kelompok utama penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto yang berasal dari aktivitas investasi dan pendanaan,

 

Pelaporan Arus Kas atas Dasar Arus Kas Bersih

Arus kas yang berasal dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan berikut ini dapat disajikan menurut arus kas bersih: (a) penerimaan dan pengeluaran kas untuk kepentingan para pelanggan apabila arus kas tersebut lebih mencerminkan aktivitas pelanggan daripada aktivitas perusahaan; dan (b) penerimaan dan pengeluaran kas untuk pos-pos dengan perputaran cepat, dengan volume transaksi yang besar, dan dengan jangka waktu singkat (maturity short).

Arus kas yang berasal dari aktivitas suatu lembaga keuangan berikut ini dapat dilaporkan dengan dasar arus kas bersih:

  • penerimaan dan pembayaran kas sehubungan dengan deposito berjangka waktu tetap;
  • penempatan dan penarikan deposit pada lembaga keuangan lainnya; dan
  • pemberian dan pelunasan kredit.

 

Arus Kas dalam Valuta Uang Asing

Arus kas yang berasal dari transaksi dalam valuta asing harus dibukukan dalam mata uang yang digunakan dalam pelaporan keuangan dengan menjabarkan jumlah mata uang asing tersebut menurut kurs pada tanggal transaksi arus kas. Arus kas anak perusahaan di luar negeri dijabarkan berdasarkan kurs transaksi pada tanggal arus kas.

 

Pos Luar Biasa

Arus kas sehubungan dengan pos luar biasa harus diklasifikasi sebagai aktivitas operasi, investasi dan pendanaan sesuai dengan sifat transaksinya dan diungkapkan secara terpisah.

 

Bunga dan Dividen

Arus kas dari bunga dan dividen yang diterima dan dibayarkan, masing-masing harus diungkapkan tersendiri. Masing-masing harus diklasifikasi secara konsisten antar periode sebagai aktivitas operasi, investasi atau pendanaan.

 

Pajak Penghasilan

Arus kas yang berkaitan dengan pajak penghasilan harus diungkapkan tersendiri dan diklasifikasi sebagai arus kas aktivitas operasi kecuali jika secara spesifik dapat diidentifikasikan sebagai aktivitas pendanaan dan investasi.

 

Perolehan dan Pelepasan (Disposal) Anak perusahaan dan Unit Bisnis lainnya

Keseluruhan arus kas yang berasal dari perolehan dan pelepasan anak perusahaan atau unit bisnis lainnya harus diungkapkan secara terpisah dan diklasifikasi sebagai aktivitas investasi.

Perusahaan harus mengungkapkan hal-hal berikut secara keseluruhan, sehubungan dengan perolehan dan pelepasan anak perusahaan dan unit bisnis lainnya selama satu periode: (a) jumlah harga perolehan atau pelepasan; (b) bagian nilai perolehan atau pelepasan yang dibayarkan dengan kas dan setara kas. (c) jumlah kas dan setara kas pada anak perusahaan atau unit bisnis yang diperoleh atau dilepaskan; dan (d) jumlah aktiva dan kewajiban selain kas atau setara kas pada anak perusahaan atau unit bisnis yang diperoleh atau dilepaskan, diikhtisarkan berdasarkan kategori utamanya.

 

Transaksi bukan Kas

Transaksi investasi dan pendanaan yang tidak memerlukan penggunaan kas atau setara kas harus dikeluarkan dari laporan arus kas. Transaksi semacam itu harus diungkapkan sedemikian rupa pada catatan atas laporan keuangan sehingga dapat memberikan semua informasi yang relevan mengenai aktivitas investasi dan pendanaan tersebut.

 

CONTOH LAPORAN ARUS KAS

Wiloyo Service

Laporan Arus Kas

Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2009

Arus kas dari aktivitas operasi    
Kas yang diterima dari pelanggan Rp.  7.500.000  
Dikurangi :    
pembayaran kas untuk beban dan pembayaran   kepada kreditor  

Rp.  4.600.000

 
Arus kas dari aktivitas operasi   Rp.    2.900.000
Arus kas dari aktivitas investasi    
Pembayaran kas untuk pembelian tanah   (Rp.20.000.000)
Arus kas dari aktivitas pendanaan    
Kas yang diterima sebagai investasi pemilik Rp.25.000.000  
Dikurangi : penarikan kas oleh pemilik Rp.  2.000.000  
Arus kas bersih dari aktivitas pendanaan   Rp.  23.000.000
Saldo kas pada 31 Desember 2009   Rp.   5.900.000

 

 

 

Pengertian Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi adalah suatu laporan yang menunjukkan pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya dari suatu usaha untuk suatu periode tertentu. Selisih antara pendapatan-pendapatan dan biaya merupakan laba yang diperoleh atau rugi yang diderita oleh perusahaan. Laporan laba rugi yang kadang-kadang disebut laporan penghasilan atau laporan pendapatan dan biaya merupakan laporan yang menunjukkan kemajuan keuangan perusahaan dan jga merupakan tali penghubung dua neraca yang berurutan.

Maka arti penting dari laporan laba rugi yaitu sebagai alat untuk mengetahui kemajuan yang dicapai perusahaan dan juga mengetahui berapakah hasil bersih atau laba yang didapat dalam suatu periode.

Berikut ini istilah-istilah yang digunakan dalam laporan laba rugi yang diambilkan dari Statement of Financial Accounting Concepts Nomor 6 yang dikeluarkan oleh FASB.

Pendapatan (revenue)

Adalah aliran masuk atau kenaikan lain aktiva suatu badan usaha atau pelunasan utangnya (atau kombinasi keduanya) selama suatu periode yang berasal dari penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan jasa, atau dari kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama badan usaha.

Biaya (expense)

Adalah aliran keluar atau pemakaian lain aktiva atau timbulnya utang (atau kombinasi keduanya) selama satu periode yang berasal dari penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan jasa, atau dari pelaksanaan kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama badan usaha.

Penghasilan (income)

Adalah selisih penghasilan-penghasilan sesudah dikurangi biaya-biaya. Bila pendapatan lebih kecil daripada biaya, selisihnya sering disebut rugi.

Laba (gain)

Adalah kenaikan modal 9aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi badan usaha selama suatu periode kecuali yang timbul dari pendapatan (revenue) atau investasi oleh pemiliknya. Contohnya adalah laba yang timbul dari penjualan aktiva tetap.

Rugi (loss)

Adalah penurunan modal (aktiva bersih) dan transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi badan usaha selama suatu periode kecuali yang timbul dari biaya (expense) atau distribusi pada pemilik. Contohnya adalah rugi penjualan surat berharga.

Harga Perolehan (cost)

Adalah jumlah uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul untuk memperoleh barang atau jasa. Jumlah ini pada saat terjadinya transaksi akan dicatat sebagai aktiva. Misalnya pembelian mesin, dan pembayaran uang muka sewa (persekot biaya).

 

Laporan Laba Rugi Mempunyai 2 Unsur Yaitu Pendapatan Dan Beban/Biaya.

1) Pendapatan

Dalam pengertian akuntansi, penghasilan meliputi pendapatan dari penjualan (sales) barang/jasa, pendapatan sewa, dividen, bunga, royalti, honorarium profesioanal, komisi dan keuntungan (gains) dari penjualan surat berharga atau aktiva tetap. Tidak termasuk penghasilan adalah peningkatan aktiva perusahaan yang timbul dari investasi pemilik (investor).

Terjadinya penghasilan mengakibatkan penambahan terhadap aktiva atau pengurangan terhadap kewajiban. Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi kalau kenaikan nilai aktiva atau penurunan nilai kewajiban sebagai akibatnya telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. Oleh karena itu penghasilan diakui sebagai berikut:

  • Pendapatan dari penjualan barang (produk) diakui pada saat terjadi transaksi   penjualan.
  • Pendapatan dari penjualanjasa diakui pada saat terjadi transaksi penyerahan jasa.
  • Pendapatan yang diperoleh sebagai imbalan atas penggunaan sumber ekonomi perusahaan oleh pihak lain seperti pendapatan sewa, bunga atau. royalti diakui secara proporsional (sebanding) dengan waktu penggunaan sumber ekonomi yang bersangkutan.
  • Keuntungan (gains) yang diperoleh dari penjualan aktiva selain barang dagangan seperti aktiva tetap atau surat berharga, diakui pada saat teijadi transaksi penjualan.

Dalam laporan laba rugi, penghasilan perusahaan secara garis besar diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu: (1) penghasilan usaha,  dan (2) penghasilan di luar usaha.

(1)  Pendapatan usaha (operating income) adalah penghasilan yang diperoleh dari aktivitas usaha pokok (utarna) perusahaan. Misalnya aktivitas usaha pokok perusahaan dagang adalah pembelian dan penjualan barang dagangan. Penghasilan yang berhubungan langsung dengan kegiatan yang utama dilakukan perusahaan dagang adalah “hasil penjualan barang dagangan”. Dengan demikian pengahasilan usaha perusahaan dagang adalah hasil penjualan barang dagangan, biasa disingkat dengan istilah “penjualan” (sales). Sementara, penghasilan usaha perusahaan yang bergerak di bidang jasa adalah “hasil penjualan jasa”.

(2)  Pendapatan di luar usaha (non‑operating income) adalah penghasilan yang diperoleh dari aktivitas di luar aktivitas pokok perusahaan, atau dari kegiatan usaha sampingan yang dilakukan sewaktu‑waktu. Misalnya: (a) perusahaan bengkel selain menjual jasa bengkel, kadang‑kadang menyewakan kendaraan, (b) perusahaan dagang yang menyewakan sebagian gedung kantornya. Sewa yang diterima oleh perusahaan tersebut merupakan penghasilan di luar usaha. Termasuk juga penghasilan di luar usaha adalah laba penjualan surat berharga, laba penjualan aktiva tetap yang dihentikan penggunaannya.

2) Beban

Terjadinya beban (expenses) adalah berkurangnya nilai aktiva atau bertambahnya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak berhubungan dengan penarikan modal dan pembagian laba kepada penanam modal. Seperti halnya penghasilan, beban dalam laporan laba rugi dikelompokkan menjadi: (1) beban usaha (operating expenses), dan (2) beban di luar usaha (non‑operating expenses).

Beban usaha adalah beban‑beban yang secara langsun g atau tidak langsung berhubungan dengan aktivitas usaha pokok perusahaan. Beban usaha digolongkan menjadi:

a)   Harga pokok penjualan (cost of goods sold) tepatnya beban pokok penjualan, adalah harga pokok barang yang dijual selama suatu periode akuntansi.

b)   Beban penjualan (selling expenses), adalah beban‑beban yang berhubungan dengan usaha memperoleh pembeli (pelanggan) dan usaha melayani pelanggan. Termasuk beban penjualan, antara lain: gaji pegawai bagian penjualan, beban iklan, dan beban pengiriman barang ke luar.

c)   Beban administrasi (administrative expenses) atau beban umum (general expenses), yaitu beban‑beban yang berhubungan dengan aktivitas umum perusahaan, misalnya: gaji pegawai kantor, perlengkapan kantor yang habis dipakai, beban penyusutan gedung dan peralatan kantor.

Beban di luar usaha adalah beban yang timbul dari aktivitas di luar usaha pokok perusahaan, misalnya: rugi penjualan aktiva tetap, dan beban bunga. Disamping beban usaha dan beban di luar usaha tersebut di atas, harus diinformasikan terpisah dalam laporan laba rugi adalah kerugian yang sifatnya tidak biasa seperti kerugian akibat kebakaran atau bencana banjir.

 

Susunan Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi adalah laporan yang menunjukkan hasil usaha dan biaya-biaya selama satu periode akuntansi. Menurut PSAK 2002 No.1 (revisi 1998), laporan laba rugi perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan unsur kinerja keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos berikut ini :

a)      Pendapatan;

b)      Laba rugi usaha;

c)      Beban pinjaman;

d)     Bagian dari laba atau rugi perusahaan afiliasi dan asosiasi yang diberlakukan menggunakan metode ekuitas;

e)      Beban pajak;

f)       Laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan;

g)      Pos luar biasa;

h)      Hak minoritas;

i)        Laba atau rugi bersihuntuk periode berjalan.

Untuk menyajikan pos luar biasa seperti kebakaran, gempa, dan sebagainya perusahaan dapat menganut salah satu dari 2 perlakuan berikut ini:

ALL INCLUSIVE

Pencatatan kerugian dari pos luar biasa tsb dapat disajikan dalam laporan laba rugi, sedangkan dalam laporan laba yang ditahan hanya berisi net income yang ditransfer dari laporan rugi laba deklarasi (pembayaran dividend), penyisihan dari laba (appropriation of retained earning)

CURRENT OPERATING PERFORMANCE/NON CLEAN SURPLUS CONCEPT

Pecatatan kerugian dari pos luar biasa tidak boleh disajikan dalam laporan laba rugi melainkan disajikan dalam laporan laba ditahan atau laporan perubahan modal maka laporan laba rugi hanya menentukan hasil dari operasi normal periode tersebut.


Bentuk Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi dapat disajikan dalam bentuk‑bentuk sebagai berikut:

 

a.   Bentuk langsung (single step)

Dalam bentuk single step, penghasilan usaha dan penghasilan di luar usaha disusun dalam satu kelompok. Demikian pula beban usaha dan beban di luar usaha. Laba atau rugi bersih dihitung dengan cara mengurangi total penghasilan dengan total beban. Sebagai ilustrasi, berikut ini laporan laba rugi JOENG-Cut Salon untuk tahun 2008 yang disusun dalam bentuk single step.

JOENG-Cut SALON

LAPORAN LABA RUGI

Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2008

Penghasilan    
Penghasilan Usaha    
Penjualan  jasa 63.600.000,00  
Penghasilan Di luar Usaha    
Laba penjualan peralatan 4.800.000,00  
Total penghasilan   68.400.000,00
     
Beban    
Beban Usaha :    
Beban gaji 15.200.000,00  
Beban perlengkapan 10.400.000,00  
Beban penyusutan peralatan 4.000.000,00  
Beban listrik dan telepon 3.600.000,00  
Beban sewa ruangan 4.800.000,00  
Beban asuransi 1.200.000,00  
Beban usaha lain-lain 1.600.000,00  
Jumlah beban usaha 40.800.000,00  
     
Beban di Luar Usaha    
Beban bunga 2.700.000,00  
Total beban 43.500.000,00
Laba bersih sebelum pajak 24.900.000,00

b. Bentuk bertahap (multiple step)

Dalam bentuk ini baik penghasilan maupun beban dipisah secara rinci antara pendapatan dan beban usaha dengan penghasilan dan beban di luar usaha sehingga bias dihitung penghasilan-penghasilan sebagai berikut:

  • Laba bruto, yaitu hasil penjualan dikurangi harga pokok penjualan
  • Penghasilan usaha bersih, yaitu laba bruto dikurangi biaya-biaya usaha.
  • Penghasilan bersih sebelum pajak, yaitu penghasilan usaha bersih ditambah dan dikurangi dengan pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya diluar usaha.
  • Penghasilan bersih sesudah pajak, yaitu penghasilan bersih sebelum pajak dikurangi pajak penghasilan.
  • Penghasilan bersih dan elemen-elemen luar biasa, yaitu penghasilan bersih sesudah pajak ditambah dan /atau dikurangi dengan elemen-elemen yang tidak biasa (sesudah diperhitungkan pajak penghasilan untuk pos luar biasa)

Dari data laporan laba rugi di muka, jika disusun dalam bentuk multiple step akan tampak seperti di bawah ini:

 

JOENG-Cut SALON

LAPORAN LABA RUGI

Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2008

Penghasilan Usaha    
Penjualan  jasa   63.600.000,00
     
Beban:    
Beban Usaha :    
Beban gaji 15.200.000,00  
Beban perlengkapan 10.400.000,00  
Beban penyusutan peralatan 4.000.000,00  
Beban listrik dan telepon 3.600.000,00  
Beban sewa ruangan 4.800.000,00  
Beban asuransi 1.200.000,00  
Beban usaha lain-lain 1.600.000,00  
Jumlah beban usaha 40.800.000,00
Laba Usaha 22.800.000,00
Pendapatan dan beban di luar usaha    
Laba penjualan peralatan 4.800.000,00  
Beban bunga 2.700.000,00  
Pendapatan bersih di luar usaha   2.100.000,00
Laba bersih sebelum pajak 24.900.000,00

 

Pengertian Neraca

Neraca adalah bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada akhir periode tersebut. Neraca terdiri dari tiga unsur, yaitu aktiva, kewajiban, dan modal. Harta yang disajikan dalam neraca disusun berdasarkan likuiditas, yaitu tingkat kecepatan harta tersebut menjadi uang, dalam kegiatan perusahaan. Sedangkan utang disusun atas jangka waktu pembayaran. Dan modal disusun berdasarkan tingkat kekekalan/lamanya bertahan dalam perusahaan.

1) Aktiva (assets)

Aktiva adalah sumber daya  yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan. Aktiva diakui (dicantumkan) dalam neraca apabila manfaat ekonominya di masa depan besar kemungkinan dapat diperoleh perusahaan dan aktiva yang bersangkutan mempunyai nilai yang dapat diukur dengan andal. Aktiva dalam neraca secara garis besar diklasifikasikan menjadi aktiva lancar dan aktiva tidak lancar.

1) Aktiva Lancar

Aktiva lancar (current assets) adalah semua aktiva perusahaan yang meliputi uang tunai dan  aktiva lain yang mudah dicairkan menjadi uang tunai, atau aktiva yang berkurang bahkan habis jika digunakan oleh perusahaan dalam satu periode akuntansi. Termasuk golongan aktiva lancar antara lain, yaitu:

  • Kas,
  • Surat‑surat berharga yang segera dapat di jual (marketable securities),
  • Deposito jangka pendek, Wesel tagih jangka pendek (notes receivable),
  • Piutang usaha atau piutang dagang (account receivable),
  • Piutang lain‑lain jangka pendek,
  • Persediaan (inventory),
  • Beban dibayar di muka (prepaid expense),
  • Pendapatan yang masih harus diterima (accruals receivable).

2) Aktiva Tidak Lancar

Aktiva tidak lancar adalah aktiva yang mempunyai masa kegunaan (manfaat) lebih dari satu tahun, atau manfaatnya dapat dinikmati perusahaan dalam beberapa periode akuntansi.

3) Aktiva Tetap

Aktiva tetap adalah aktiva berwujud (tangible) yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dibangun lebih dahulu dan digunakan dalam kegiatan operasi perusahaan. Artinya, dalam keadaan aktivitas usaha normal tidak dimaksudkan untuk dijual kembali. Aktiva tetap, memiliki masa manfaat ekonomi lebih dari satu tahun. Aktiva tetap meliputi aktiva tetap yang tidak disusutkan (non depreciable) dan aktiva tetap yang disusutkan (depreciable). Termasuk aktiva tetap berwujud yaitu sebagai berikut

  • Tanah (land) sebagai tempat menjalankan usaha, atau di atasnya didirikan bangunan perusahaan, termasuk aktiva tetap yang tidak disusutkan.
  • Gedung atau bangunan (building) seperti gedung pabrik, gedung toko dan gedung kantor.
  • Mesin‑mesin (machinery) misalnya mesin‑mesin untuk menjalankan proses produksi.
  • Kendaraan untuk pengangkutan (delivery equipment), kendaraan yang digunakan dalam kegiatan usaha perusahaan misalnya sepeda motor, truk, dan kendaraan lainnya.
  • Peralatan kantor (office equipment), semua peralatan yang ada di kantor dan digunakan dalam kegiatan usaha perusahaan.

 

4) Aktiva Tidak Berwujud

Aktiva tidak berwujud (intangible assets) lebih merupakan hak istimewa yang dimiliki dan memberikan manfaat ekonomi kepada perusahaan. Aktiva tidak berwujud timbul misalnya karena posisi perusahaan yang menguntungkan, penemuan hal‑hal yang baru dan ak pengelolaan suatu fasilitas yang diterima perusahaan. Termasuk aktiva tidak berwujud antara lain hak patent, hak cipta, franchise, merek dagang, dan goodwill.

 

5) Aktiva Lain‑lain

Aktiva yang diperlakukan sebagai aktiva lain‑lain di antaranya sebagai berikut:

(1)   Aktiva tetap yang telah habis masa penggunaannya

(2)   Gedung dalam proses penyelesaian.

(3)   Piutang kepada pemegang saham.

(4)   Biaya yang ditangguhkan pembebanannya seperti biaya survey sebelum perusahaan menjalankan operasi dan biaya emisi saham.

 

b.  Kewajban (liabilities)

Kewajiban adalah hutang perusahaan masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu dan harus  diselesaikan di masa datang dengan menyerahkan aktiva atau jasa (sumber daya perusahaan). Kewajiban diakui dalam neraca apabila pengeluaran sumber daya yang akan dilakukan di masa datang adalah untuk menyelesaikan hutang masa kini, dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal. Kewajiban dalam neraca biasanya diklasifikasikan sebagai berikut.

1) Kewajiban Lancar

Kewajiban lancar meliputi hutang‑hutang yang harus dilunasi dalam jangka waktu tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca. Atau kewajiban yang penyelesaiannya menggunakan sumber‑sumber yang merupakan aktiva lancar. Termasuk golongan kewajiban lancar antara lain sebagai berikut :

  • Hutang usaha atau hutang dagang (account payable), yaitu hutang yang timbul sebagai akibat pembelian barang atau penerimaan jasa dalam rangka kegiatan usaha pokok perusahaan.
  • Hutang wesel atau wesel bayar (notes payable) jangka pendek yaitu hutang yang dijamin dengan surat wesel atau promes.
  • Hutang beban seperti hutang bunga, hutang gaji, dan hutang sewa
  • Hutang pajak (pajak yang masih harus disetor)
  • Uang muka penjualan, uang yang diterima dari pembeli untuk penjualan yang belum direalisasi.
  • Hutang yang timbul karena pembelian aktiva tetap, pinjaman dari bank dan hutang lainnya yang harus dilunasi dalam waktu tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca.
  • Bagian dari hutang jangka panjang (angsuran) yang jatuh tempo dalam jangka waktu tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca.

 

2) Kewajiban Jangka Panjang

Kewajiban jangka paniang adalah hutang yang jatuh tempo pembayarannya setelah lewat waktu lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca. Dengan demikian penyelesaiannya tidak menggunakan sumber sumber yang merupakan aktiva lancar. Termasuk kewajiban jangka panjang antara lain sebagai berikut

  • Pinjaman obligasi yaitu hutang yang timbul melalui penjualan obligasi
  • Hutang hipotik yaitu hutang yang dijamin dengan barang (harta) tidak bergerak

 

3) Kewajiban Lain‑lain

Kewajiban lain‑lain merupakan pos tempat menampung hutang yang tidak memenuhi syarat untuk diperlakukan sebagai hutang lancar dan hutang jangka panjang. Termasuk kewajiban lain‑lain yaitu sebagai berikut :

  • Hutang kepada direksi
  • Hutang kepada perusahaan yang berafiliasi
  • Uang jaminan jangka panjang yang diterima dari pelanggan
  • Pendapatan yang ditangguhkan, misalnya pendapatan sewa jangka panjang diterima di muka.

 

4) Hutang yang disubordinasikan

Hutang yang disubordinasikan adalah pinjaman dengan suatu perjanjian subordinasi. Artinya kewajiban untuk melunasinya baru dilakukan setelah perusahaan melunasi suatu kewajiban tertentu. Apabila perusahaan dilikuidasi, hutang yang disubordinasi diselesaikan setelah perusahaan melunasi seluruh kewajiban lainnya.

 

 

c.   Ekuitas (Equity)

Dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) ekuitas didefinisikan sebagai hak residual (sisa) atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Dengan demikian jumlah (besarnya) ekuitas sama dengan selisih antara aktiva dan kewajiban perusahaan. Dalam perusahaan yang berbentuk perseroan, ekuitas diklasifikasikan sebagai berikut   :

1)      Modal yang disetor para pemegang saham, bisa terdiri atas:

  • Modal saham preferen atau saham prioritas;
  • Modal saham biasa.

2)      Tambahan modal disetor, bisa terdiri atas:

  • Agio, selisih lebih antara harga jual dan harga nominal saham;
  • (Disagio), selisih kurangan tara hargajual dan harga nominal saham;
  • Modal dari sumbangan;
  • Tambahan lainnya.

3)      Selisih penilaian kembakli aktiva tetap

4)      Saldo Laba yang dirinci sebagai berikut.

  • Cadangan tujuan.
  • Cadangan umum.
  • Saldo laba yang belum dicadangkan.

 

Macam – Macam Neraca

1) Neraca Saldo

Neraca saldo ialah suatu daftar yang berisi saldo-saldo sementara setiap akun buku besar pada suatu saat tertentu. Neraca saldo biasanya disusun pada akhir periode akuntansi, yang bertujuan untuk memeriksa kesamaan jumlah saldo debet dengan saldo kredit.

 

2) NeracaPembayaran

Neraca pembayaran adalah catatan dari semua transaksi ekonomi internasional yang meliputi perdagangan, keuangan dan moneter antara penduduk dalam negeri dengan penduduk luar negeri selama periode waktu tertentu, biasanya satu tahun atau dikatakan sebagai laporan arus pembayaran (keluar dan masuk) untuk suatu negara. Neraca pembayaran secara esensial merupakan sistem akuntansi yang mengukur kinerja suatu negara. Pencatatan transaksi dilakukan dengan pembukuan berpasangan (double-entry bookkeeping system), yaitu; tiap transaksi dicatat satu sebagai kredit dan satu lagi sebagai debit.

Transaksi yang dicatat sebagai kredit adalah arus masuk valuta. arus masuk valuta adalah transaksi-transaksi yang mendatangkan valuta asing, yang merupakan suatu peningkatan daya beli eksternal atau sumber dana. Sedangkan transaksi yang dicatat sebagai debit adalah arus keluar valuta. Arus keluar valuta adalah transaksi-transaksi pengeluaran yang membutuhkan valuta asing, yang merupakan suatu penurunan daya beli eksternal atau penggunaan dana.

Tiap-tiap credit entry (bertanda positif) harus diseimbangkan (balanced) dengan debit entry (bertanda negatif) yang sama. Kedua entries tersebut dikombinasikan untuk menghasilkan laporan sumber-sumber dan penggunaan modal nasional (dari mana kita memperoleh danadana/ daya beli, dan bagaimana kita mengunakannya). Jadi, total kredit dan debit dari neraca pembayaran suatu negara akan sama secara agregat; namun, dari komponen-komponen neraca pembayaran, mungkin terdapat surplus dan deficit

Satu-satunya kesulitan riil dalam memahami bagaimana tiap transaksi mempengaruhi neraca pembayaran terletak pada interpretasi dari aset finansial dan hutang kepada pihak luar negeri. Contoh berikut membantu pemahaman tersebut diatas.

Contoh: Suatu perusahaan RI meminjam Poundsterling Inggris. Jelas, pinjaman ini merupakan peningkatan hutang penduduk/perusahaan RI pada pihak luar negeri (Inggris).

Pinjaman ini merupakan suatu credit entry pada neraca pembayaran. Debit entry yang sama akan diklasifikasikan sebagai suatu peningkatan dalam kepemilikan aset financial luar negeri, yaitu rekening bank debitor RI (yang didenominasi) dalam sterling merupakan suatu aset. Memiliki aset dalam valuta asing sama seperti memberikan pinjaman jangka pendek kepada negara lain.

Neraca pembayaran dapat dipecah ke dalam beberapa kategori yaitu; transaksi berjalan (current account), neraca modal (capital account), dan cadangan devisa negara (official reserves account).

a) Transaksi berjalan (current account).

Merupakan bagian dari neraca pembayaran yang berisi arus pembayaran jangka pendek (mencatat transaksi ekspor-impor barang dan jasa), yang meliputi :

  • ekspor dan impor barang-barang dan jasa ekspor barang-barang dan jasa yang diperlakukan sebagai kredit impor barang-barang dan jasa diperlakukan kembali sebagai debit
  • net investment income tingkat bunga dan dividen diperlakukan sebagai jasa karena merepresentasikan pembayaran untuk penggunaan modal.
  • net transfer (transfer unilateral)

meliputi bantuan luar negeri, pemberian-pemberian dan pembayaran lain antar pemerintah dan antar pihak swasta. Net transfer bukan merupakan perdagangan barang dan jasa. Atau dengan kata lain transaknsi berjalan merangkum aliran dana antara satu Negara tertentu dengan seluruh negara lain sebagai akibat dari pembelian barang-barang atau jasa, provisi income atas aset finansial, atau transfer unilateral (misalnya bantuan bantuan antar pemerintah dan antar pihak swasta). Transaksi berjalan merupakan ukuran posisi perdagangan intenasional yang luas. Defisit transaksi berjalan menjelaskan arus dana yang keluar suatu negara lebih besar dari dana-dana yang diterimanya.

Komponen transaksi berjalan meliputi neraca perdagangan dan neraca barang dan jasa. Transaksi berjalan umumnya digunakan untuk menilai neraca perdagangan. Neraca Perdagangan secara sederhana merupakan selisih/perbedaan antara ekspor dan impor. Jika impor lebih tinggi dari ekspor, maka yang terjadi adalah defisit neraca perdagangan.

Sebaliknya, jika ekspor lebih tinggi dari impor, yang terjadi adalah surplus. Sedangkan Neraca Jasa adalah neraca perdagangan ditambah jumlah pembayaran bunga kepada para investor luar negeri dan penerimaan dividen dari investasi di luar negeri, serta penerimaan dan pengeluaran yang berhubungan dengan pariwisata dan transaksitransaksi ekonomi lainnya.

 

b) Neraca Modal (Capital Account)

Merupakan bagian dari neraca pembayaran yang mencerminkan perubahan-perubahan dalam kepemilikan aset jangka pendek dan jangka panjang (seperti saham, obligasi dan real estate) suatu negara, Yang meliputi : a. Arus modal masuk tercatat sebagai kredit karena suatu Negara menjual aset berharga kepada pihak asing untuk memperoleh uang tunai.

  • Arus modal keluar tercatat sebagai debit karena suatu Negara membeli asset berharga dari pihak asing (luar negeri).
  • Transaksi-transaksi neraca modal diklasifikasi sebagai investasi portfolio, langsung atau jangka pendek.

Untuk dapat membeli aset luar negeri diperlukan valuta asing, dengan demikian arus modal neto menggambarkan demand terhadap valuta asing. Nilai valuta asing ditentukan oleh demand valas untuk membeli barang-barang dan jasa dan demand terhadap valas untuk membeli aset. Neraca Modal adalah ukuran investasi jangka pendek dan jangka panjang suatu negara, termasuk investasi langsung luar negeri dan investasi dalam sekuritas.

 

c) Cadangan Devisa Negara (Official Reserves Account)

Mengukur perubahan-perubahan dalam cadangan internasional yang dimiliki oleh otoritas keuangan suatu negara. Hal ini mencerminkan surplus atau defisit transaksi-transaksi ekonomi neraca berjalan dan meraca modal suatu negara yang dihasilkan dengan cara mencari nilai selisih (netting) dari cadangan aset dan cadangan hutang. Cadangan devisa terdiri dari :

a) Cadangan internasional yang terdiri dari emas dan aset luar negeri yang dapat diperdagangkan.

b) Peningkatan dalam tiap aset tercatat sebagai debit

c) Penurunan cadangan aset tercatat sebagai kredit

 

3) Neraca Lajur

Neraca lajur adalah suatu lembaran kertas berlajur / berkolom yang digunakan dalam kegiatan dalam kegiatan akuntansi secara manual. Adapun kegunaan dari neraca lajur adalah untuk mempermudah penyusunan laporan keuangan.Neraca lajur berisi semua informasi untuk laporan keuangan seperti saldo-saldo perkiraan sebelum jurnal penyesuaian , perkiraan-perkiraan jurnal penyesuaian dan saldo-saldo perkiraan setelah jurnal penyesuaian.

Dalam praktek penyelenggaraan akuntansi secara manual, laporan keuangan justru disusun terlebih dahullu sebelum keseluruhan tahap penyesuaian rekening diselesaikan, yang dimaksudkan sebagai sarana uji kebenaran. Dalam akuntansi secara manual dapat dilakukan dengan cara membuat neraca lajur. Neraca lajur memuat 6 bagian pokok yaitu : (1) neraca saldo, (2) penyesuaian, (3) neraca saldo setelah penyesuaian, (4) laporan perhitungan laba-rugi, (5) laporan perubahan modal/laba ditahan, (6) neraca.

 

 

 

 

Bentuk Neraca

a. Bentuk Skontro (Account form)

Dalam bentuk skontro, semua aktiva perusahaan disusun di sisi kiri (debet), kewajiban dan ekuitas disusun di sisi kanan (kredit). Di tengah bagian atas ditulis judul yang berisi nama perusahaan, kata neraca, dan tanggal neraca. Sebagai contoh, berikut ini susunan aktiva, kewajiban, dan ekuitas “Bengkel Sukses” pada 31 Desember 2008 yang disusun dalam neraca bentuk skontro.

BENGKEL SUKSES

NERACA

31 Desember 2008

AKTIVA KEWAJIBAN  DAN EKUITAS
Aktiva Lancar Kewajiban Lancar  
Kas 18.000.000 Hutang usaha 22.000.000
Surat berharga 24.000.000 Hutang bank 12.000.000
Piutang wesel 22.000.000 Hutang wesel 8.000.000
Piutang usaha 6.800.000 Hutang pajak 2.400.000
Perlengkapan bengkel 5.200.000 Hutang bunga 300.000
Gaji dibayar dimuka 2.000.000 Pendapatan diterima dimuka 800.000
Jumlah aktiva lancar 78.000.000 Jumlah kewajiban lancar 45.500.000
       
Investasi Jangka Panjang Kewajiban Jangka Panjang  
Investasi –  Saham PT. NUSA 40.000.000 Hutang hipotik 40.000.000
    Jumlah kewajiban 85.500.000
Aktiva Tetap   Ekuitas  
Tanah                                        80.000   Modal Aris 216.500.000
Bangunan                   100.000      
Akum. Penyusutan   (  20.000)

80.000

     
Peralatan bengkel        40.000      
Akum.Penyusutan     (16.000)

24.000

     
Jumlah aktiva tetap 184.000.000    
Total Aktiva 302.000.000 Total Kewajiban dan Ekuitas 302.000.000

 

*)    Aktiva tetap setiap akhir periode nilainya disusutkan.  Jumlah penyusutan sampai dengan tanggal neraca akan tampak pada akun “Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap” yang bersangkutan.

b.  Bentuk Vertikal (Report form)

Dalam bentuk ini aktiva, kewajiban dan ekuitas disusun beurutan ke bawah (vertikal). Apabila data keuangan “Bengkel Sukses” pada contoh di atas disusun dalam neraca bentuk vertikal, akan tampak sebagai berikut:

BENGKEL SUKSES

NERACA

Per. 31 Desember 2008

AKTIVA
Aktiva Lancar
Kas 18.000.000,00
Surat berharga 24.000.000,00
Piutang wesel 22.000.000,00
Piutang usaha 6.800.000,00
Perlengkapan bengkel 5.200.000,00
Gaji dibayar dimuka 2.000.000,00
Jumlah aktiva lancar 78.000.000,00
Investasi Jangka Panjang
Investasi Saham – PT Nusa 40.000.000,00
Aktiva Tetap
Tanah   80.000.000,00
Bangunan 100.000.000,00  
Akum. Penyusutan 20.000.000,00  
    80.000.000,00
Peralatan bengkel 40.000.000,00  
Akum.Penyusutan 16.000.000,00  
    24.000.000,00
Jumlah aktiva tetap 184.000.000,00
Total Aktiva 302.000.000,00

KEWAJIBAN DAN EKUITAS

Kewajiban Lancar
Hutang usaha 22.000.000,00
Hutang bank 12.000.000.00
Hutang wesel 8.000.000,00
Hutang pajak 2.400.000,00
Hutang bunga 300.000,00
Pendapatan diterima dimuka 800.000,00
Jumlah kewajiban lancar 45.500.000,00
Kewajibab Jangka Panjang
Hutang Hipotek 40.000.000,00
EKUITAS
Modal Aris 216.500.000,00
Total Kewajiban dan Ekuitas 302.000.000,00

KERANGKA KONSEPTUAL FASB

KERANGKA KERJA KONSEPTUAL

Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) didefinisikan oleh  FASB sebagai :

a coherent system of interrelated objectives and fundamentals that is expected to lead to consistent standards and that prescribes the nature, function, and limits of financial accounting and reporting”.

Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) adalah suatu sistem koheren yang terdiri dari tujuan dan konsep fundamental yang saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi penetapan standar yang konsisten dan penentuan sifat, fungsi, serta batas- batas dari akuntansi keuangan dan laporan keuangan

Yang dimaksud tujuan adalah tujuan pelaporan keuangan. Sedangkan fundamentals (kaidah-kaidah pokok) adalah konsep-konsep yang mendasarai akuntansi keuangan, yakni yang menuntun kepada pemilihan transaksi, kejadian, dan keadaan-keadaan yang harus dipertanggungjawabkan, pengakuan dan pengukurannya, cara meringkas serta mengkomunikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Konsep-konsep yang bersifat pokok atau fundamental, artinya bahwa konsep-konsep lainnya mengalir dari konsep-konsep pokok tersebut yang diperlukan sebagai referensi berulang-ulang dalam menetapkan, menafsirkan, dan menetapkan standar akuntansi keuangan dan pelaporan.

 

Kebutuhan akan Kerangka Kerja Konseptual

  1. Kerangka kerja konseptual akan meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai laporan keuangan atas pelaporan keuangan, dan akan menaikkan komparabilitas antar laporan keuangan perusahaan.
  2. Masalah-masalah yang baru akan dapat dipecahkan secara cepat jika mengacu pada kerangka teori yang telah ada

 

Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual FASB (Financial Accounting Standard Board) telah menerbitkan enam statement of financial accounting concept yang berhubungan dengan pelaporan keuangan entitas bisnis, yaitu:

  • SFAC no. 1 “objective of financial reporting by business enterprises”, yang menyajikan tujuan dan sasaran akuntansi.
  • SFAC no. 2 “qualitative caracteristics of accounting information”, yang menjelaskan karakteristik yang membuat informasi akuntansi bermanfaat.
  • SFAC no. 3 “element of financial statement of business enterprises”, yang memberikan definisi dari pos-pos yang terdapat dalam laporan keuangan seperti aktiva, kewajiban, pendapatan dan beban.
  • SFAC no. 5 “recognition and measurement in financial statement of business enterprises”, yang menetapkan kriteria pengakuan dan pengukuran fundamental serta pedoman tentang informasi.
  • SFAC no. 6 “element of financial statement”, yang menggantikan SFAC no. 3 dan memperluas SFAC no. 3 dengan memasukkan organisasi-organisasi nirlaba.
  • SFAC no. 7 “using cash flow information and present value in accounting measurement”, yang memberikan kerangka kerja bagi pemakaian arus kas masa depan yang diharapkan dan nilai sekarang (present value) sebagai dasar pengukuran

 

TINGKAT PERTAMA: TUJUAN DASAR

  • Tujuan pelaporan keuangan (objectives of financial reporting) adalah untuk menyediakan informasi:

1)      yang berguna bagi mereka yang memiliki pemahaman memadai tentang aktivitas bisnis dan ekonomi untuk membuat keputusan investasi serta kredit;

2)      untuk membantu investor yang ada dan potensial, kreditor yang ada dan potensial, serta pemakai lainnya dalam menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian arus kas masa depan;

3)      tentang sumber daya ekonomi, klaimterhadap sumber daya tersebut, dan perubahan di dalamnya.

  • Tujuan(objectives) dimulai dengan lebih banyak berfokus pada informasi yang berguna bagi para investor dan kreditor dalam membuat keputusan. Fokus ini lalu menyempit pada kepentingan investor dan kreditor atas prospek penerimaan kas dari investasi mereka dalam, atau dari pinjaman yang telah mereka berikan ke entitas bisnis. Pada akhirnya, tujuan berfokus pada laporan keuangan yang menyediakan informasi yang berguna untuk menilai prospek arus kas yang akan diterima entitas bisnis yaitu arus kas yang menjadi harapan investor dan kreditor. Pendekatan ini dikenal sebagai kegunaan keputusan (decision usefulness).
  • Dalam menyediakan informasi kepada pemakai laporan keuangan, profesi akuntan mengandalkan laporan keuangan bertujuan-umum(general-purpose financial statement), yaitu menyediakan informasi paling bermanfaat dengan biaya minimal kepada berbagai kelompok pemakai

TINGKAT KEDUA : KONSEP-KONSEP FUNDAMENTAL

Karakteristik Kualitatif Informasi Akuntansi

Agar berguna dalam pengambilan keputusan (decision usefulness), informasi akuntansi harus memiliki dua kualitas yaitu kualitas primer dan kualitas sekunder. Tentu saja terdapat beberapa kendala untuk mencapai dua kualitas tersebut.

Kualitas Primer

Relevansi (relevance) dan keandalan (reliability) harus melekat pada informasi akuntansi.

1)      Relevansi. Agar relevan informasi akuntansi harus mampu membuat perbedaan dalam sebuah keputusan. Informasi itu mampu mempengaruhi pengambilan keputusan dan berkaitan erat dengan keputusan yang akan diambil, jika tidak berarti informasi tersebut dikatakan tidak relevan. Informasi  yang relevan harus memiliki nilai umpan balik (feed-back value), yakni mampu membantu menjustifikasi dan mengoreksi harapan masa lalu. Informasi juga harus memiliki nilai prediktif (predictive value) yakni dapat digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Selain itu kualitas relevan juga harus mempunyai substansi tepat waktu (timeliness). Informasi harus disajikan kepada para pemakai sebelum informasi itu kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi pengambilan keputusan.

 

2)      Keandalan. Informasi dianggap andal jika dapat diverifikasi,  netral, disajikan secara tepat serta bebas dari kesalahan dan bias (penyimpangan). Keandalan sangat diperlukan bagi individu-individu pemakai yang tidak memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi faktual dari informasi.

Realibilitas sangat diperlukan oleh individu-individu yang tidak memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi faktual dari informasi.

  • Daya Uji (verifiability): ditunjukkan ketika pengukur-pengukur independen, dengan menggunakan metode pengukuran yang sama, mendapatkan hasil yang serupa.
  • Ketepatan penyajian (representational faithfulness): angka-angka dan penjelasan dalam laporan keuangan mewakili apa yang benar-benar ada dan terjadi.
  • Netralitas(neutrality): informasi tidak dapat dipilih untuk kepentingan sekelompok pemakai tertentu. Info yang disajikan harus faktual, benar dan tidak bias

3)      Keberdayaujian (verifiability). Informasi harus dapat diuji kebenarannya. Dapat diujinya kebenaran informasi akuntansi berdasar pada keobyektifan dan konsensus. Contoh, keandalan informasi harga perolehan fixed assets harus diuji berdasar data masa lalu yang terekam pada faktur (keobyektifan). Tetapi keandalan informasi tentang depresiasi aktiva tetap itu adalah berdasarkan konsensusa mengenai metode depresiasi yang digunakan, taksiran nilai residu, dan taksiran umur ekonomis.

4)      Kenetralan (neutrality). Informasi akuntansi dimaksudkan untuk memenuhi tujuan berbagai kelompok pemakai. Oleh karena itu harus bebas dari usaha-usaha untuk memberikan keuntungan lebih kepada kelompok tertentu.

5)      Kejujuran penyajian (representational faithfulness). Penyajian yang jujur berarti adanya kesesuaian antara fakta dan informasi yang disampaikan.

 

Kualitas Sekunder

Kualitas sekunder yang harus dimiliki informasi akuntansi adalah keberdayabandingan  (comparability) dan konsistensi (consistency).

1)      Keberdayabandingan.  Informasi akuntansi akan lebih bermanfaat jika dapat dibandingkan antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain dalam satu industri (perbandingan horizontal) atau membandingkan perusahaan yang sama untuk periode yang berbeda (perbandingan vertikal). Jadi diperlukan standar dan ukuran tertentu.

2)      Konsistensi.  Sebuah entitas  dikatakan konsisten dalam menggunakan standar akuntansi apabila  mengaplikasikan perlakuan akuntansi (metode akuntansi) yang sama untuk kejadian-kejadian serupa, dari periode ke periode.

 

Kendala-kendala.

Terdapat  dua kendala yang mempengaruhi tercapainya kualitas informasi seperti yang telah dijelaskan, yaitu pertimbangan manfaat-biaya dan tingkat materialitas. Dua kendala lainnya yang kurang dominan tapi merupakan bagian dari lingkungan pelaporan adalah praktek industri dan konservatisme.

1)      Pertimbangan manfaat-biaya (cost-effectiveness). Untuk menghasilkan informasi yang relevan,andal, berdaya banding, dan konsisten dibutuhkan biaya yang mahal. Oleh karena biaya dan terutama manfaat tidak mudah diukur, maka mempertimbangkan hubungan manfaat-biaya menjadi masalah

2)      Materialitas (materiality) berhubungan dengan dampak suatu item terhadap operasi keuangan perusahaan secara keseluruhan. Suatu item akan dianggap material jika pencantuman atau pengabaian item tersebut mempengaruhi atau mengubah penilaian seorang pemakai laporan keuangan. Baik faktor-faktor kuantitatif maupun kualitatif harus dipertimbangkan dalam menentukan apakan suatu item material atau tidak.

3)      Praktik industri.(industry practices) Sifat unik dari sejumlah industri  dan perusahaan terkadang memerlukan penyimpangan dari teori dasar.

4)      Konservatisme (conservatism) berarti jika ragu, maka pilihlah solusi yang sangat kecil kemungkinannya dalam menghasilkan penetapan laba dan aktiva yang terlalu tinggi. Tujuan dari konvensi ini, jika diaplikasikan secara tepat adalah menyediakan pedoman yang paling rasional dalam situasi sulit : jangan menyajikan angka laba bersih dan aktiva bersih yang terlalu tinggi.

 

Elemen-elemen Laporan Keuangan.

SFAC No. 6 menetapkan sepuluh elemen utama laporan keuangan. Cakupannya bukan hanya perusahaan yang berorientasi laba, tetapi juga organisasi nirlaba. Elemen-elemen laporan keuangan bagi organisasi yang berorientasi laba meliputi 10 macam,  yaitu : aktiva, kewajiban, ekuitas, investasi oleh pemilik, distribusi kepada pemilik, laba komprehensif, pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian. Adapun bagi organisasi nirlaba ada 7 macam, yaitu : aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian.

 

TINGKAT KETIGA : PENGAKUAN DAN PENGUKURAN

Tingkat ketiga kerangka konseptual terdiri dari konsep-konsep yang dipakai untuk mengimplementasikan tujuan dasar dari tingkat pertama. Konsep-konsep ini menjelaskan apa, kapan, dan bagaimana unsur-unsur serta kejadian keuangan harus diakui, diukur, dan dilaporkan oleh sistem akuntansi.

 

Asumsi-Asumsi Dasar.

Asumsi-asumsi  menyediakan satu landasan bagi profesi akuntansi. Jadi, asumsi dasar akuntansi adalah anggapan-anggapan yang digunakan oleh para akuntan agar akuntansi dapat dipraktikkan.

a.               asumsi entitas ekonomi (economic entity assumption). Akuntansi memandang bahwa perusahaan merupakan unit yang berdiri sendiri dan terpisah dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan (pemilik, kreditor, karyawan, dan lainnya).

b. Kesinambungan (going concern). Sebagian besar metode akuntansi di dasarkan pada asumsi kelangsungan hidup yaitu perusahaan bisnis akan memiliki umur yang panjang.pengalaman mengindikasikan bahwa, meskipun banyak mengalami kegagalan bisnis, perusahaan dapat memiliki kelangsungan hidup yang panjang

c. Asumsi unit moneter ( monetary unit assumption). Akuntansi menggunakan unit moneter sebagai alat pengukur suatu obyek atau aktivitas perusahaan dan menganggap nilai uang adalah stabil dari waktu ke waktu.

d.               Asumsi periodisitas (periodicity assumption). Cara yang paling akurat untuk mengukur hasil operasi perusahaan adalah dengan mengukurnya pada saat perusahaan tersebut di likuidasi. Namun, pengambil keputusan tidak bisa menunggu selama itu untuk menerima informasi semacam itu. Asumsi periodisitas (periodicity assumption) atau periode waktu menyiratkan bahwa aktivitas ekonomi sebuah perusahaan dapat di pisahkan dalam periode waktu artifisial periode waktu ini bervariasi, tetapi yang paling umum yaitu secara bulanan, kuartalan dan tahunan

 

Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi

a.      Biaya historis (historical cost). GAAP mewajibkan sebagian besar aktiva dan kewajiban diperlakukan dan dilaporkan berdasarkan harga akuisisi. Kos(cost) memiliki keunggulan yang penting dibandingkan penilaian yang lainnya yaitu dapat diandalkan.

b.    Pengakuan pendapatan. Pendapatan umumnya diakui jika (1) telah direalisasi atau dapat direalisasikan dan (2) telah dihasilkan.

c.      Prinsip Penandingan (matching principle).  Beban  untuk suatu periode ditentukan dengan mengaitkannya dengan pendapatan tertentu atau dengan periode tertentu.. Beban diakui :

Þ    jika terdapat hubungan langsung atau sebab akibat dengan penjualan produk atau penyerahan jasa,

Þ    pada periode terjadinya, yakni pada saat kas dikeluarkan jika tidak terdapat hub. Langsung atau sebab akibat dengan penjualan produk atau jasa,

Þ    dengan alokasi yang sistematis dan rasional, jika butir 1 dan 2 tidak terpenuhi. Contoh: depresiasi.

d.     Prinsip Pengungkapan Penuh (full disclosure principle)

Mengakui sifat dan jumlah informasi yang dimasukkan dalam laporan keuangan mencerminkan trade off penilaian, seperti :

Þ    Hal-hal yang harus diungkapkan karena mempengaruhi keputusan pemakai

Þ    Kebutuhan untuk menyajikan secara penuh agar informasi dapat dipahami.

Catatan atas laporan keuangan umumnya ditujukan untuk memperkuat atau memperjelas pos-pos yang disajikan dalam bagian utama laporan keuangan.

 

MASALAH-MASALAH DALAM KERANGKA KONSEPTUAL

 

FASB mencoba menunjukkan masalah-masalah konseptual terpenting yang berkaitan dengan penetapan standar, yaitu :

Masalah 1 : Pandangan mengenai laba atau penghasilan mana yang harus digunakan?

Ada tiga (3) pandangan berbeda yang diidentifikasikan dalam penentuan laba atau penghasilan (earnings) :

  • Pandangan Aktiva/ Kewajiban atau Pandangan Neraca/Pandangan Pemeliharaan Modal

Berpendapat bahwa pendapatan dan beban hanya berasal dari perubahan dalam aktiva dan kewajiban. Pendapatan adalah peningkatan aktiva dan penurunan kewajiban sedangkan beban adalah penurunan aktiva dan peningkatan kewajiban.

Beberapa peningkatan dan penurunan dalam aktiva bersih dikeluarkan dari definisi penghasilan, yaitu, kontribusi modal, penarikan modal, koreksi atas pendapatan di periode-periode lalu, serta keuntungan dan kerugian akibat pemilik (holding gains and losses)

  • Pandangan Pendapatan/Beban atau Pandangan Laporan Laba Rugi/Pandangan Penandingan

Berpendapat bahwa adanya pendapatan dan beban dihasilkan oleh adanya kebutuhan akan penandingan yang tepat (proper matching). Laba pada dasarnya hanyalah selisih antara pendapatan di satu periode dengan beban yang terjadi untuk memperoleh pendapatan tersebut.

Penandingan, yang merupakan proses pengukuran fundamental dalam akuntansi terdiri atas :

1)      Pengakuan pendapatan atau waktu pengakuan melalui prinsip realisasi

2)      Pengakuan beban dengan tiga kemungkinan cara:

  • Mengasosiasikan penyebab dan dampaknya, seperti harga pokok penjualan
  • Alokasi yang sistematis dan rasional, seperti depresiasi (penyusutan)
  • Pengakuan langsung, seperti biaya penjualan dan administrasi.

Pandangan pendapatan/beban terutama menekankan pengukuran penghasilan perusahaan, dan bukannya kenaikan atau penurunan modal bersih. Aktiva dan kewajiban (termasuk yang ditangguhkan), dianggap sebagai nilai sisa (residu) yang harus dibawa ke periode-periode di masa depan untuk memastikan terjadinya penandingan yang tepat dan menghindari terjadinya distorsi keuntungan.

  • Pandangan Non-artikulasi

Didasarkan atas adanya kepercayaan bahwa artikulasi akan diikuti oleh redundansi (pencatatan yang berlebihan) karena seluruh peristiwa yang dilaporkan di laporan laba rugi juga dilaporkan di neraca, meski dari sudut pandang berbeda.

Pendapatan dan beban dapat mendominasi pengukuran penghasilan. Kedua laporan keuangan tersebut memiliki keberadaan dan arti yang saling independen. Karenanya, dapat digunakan skema-skema pengukuran yang berbeda untuk keduanya.

Salah satu contohnya dari pandangan non artikulasi ini adalah penggunaan metode LIFO di laporan laba rugi dan FIFO di neraca.

 

Jika artikulasi dapat dibuktikan sebagai suatu hal yang tidak hanya dibutuhkan namun ternyata juga menguntungkan, maka pilihan yang ada hanyalah antara pandangan aktiva/kewajiban atau pandangan pendapatan/beban. Pilihan diantara kedua pandangan ini tergantung pada pandangan yang mana yang merupakan proses pengukuran yang fundamental :

1) Pengukuran atribut-atribut aktiva dan kewajiban dan perubahan-perubahannya

à Penghasilan hanya merupakan konsekuensi dan akibat dari perubahan-perubahan tertentu dari aktiva dan kewajiban

2) Proses penandingan

à Perubahan yang terjadi dalam aktiva dan kewajiban hanyalah konsekuensi dan akibat dari pendapatan dan beban.

à Telah mengarah dengan diakuinya hal-hal seperti “beban yang ditangguhkan”, “kredit yang ditangguhkan”, dan “cadangan” dalam laporan posisi keuangan yang tidak mencerminkan sumber daya ekonomi dan kewajiban namun diperlukan untuk memastikan adanya penandingan dan penentuan laba dengan benar.

MASALAH 2-7 : DEFINISI

AKTIVA.

Definisi aktiva dari beberapa pandangan

  1. Pandangan Aktiva/Kewajiban

Menurut pandangan in, aktiva adalah sumber daya ekonomi dari sebuah perusahaan; mereka mencerminkan keuntungan di masa depan yang diharapkan menimbulkan  arus kas masuk bersih secara langsung maupun tidak langsung.

Sumber daya ekonomi sendiri antara lain :

  1. Sumber daya produktif perusahaan
  2. Hak-hak kontraktual untuk sumber daya produktif
  3. Produk
  4. Uang
  5. Klaim untuk menerima uang
  6. Kepemilikan saham di perusahaan lain
  7. Pandangan Pendapatan/Beban

Aktiva didefinisikan bukan hanya menurut pandangan aktiva saja, tapi juga hal-hal yang tidak mencerminkan sumber daya ekonomi dan diperlukan untuk penandingan yang benar dan penentuan laba.

  1. Aktiva sebagai bagian dari “laporan sumber dan komposisi modal perusahaan”. Menurut pandangan ini, aktiva membentuk “komposisi saat ini dari modal yang diinvestasikan”.

 

Karakteristik Umum Aktiva :

1)      Menggambarkan potensi arus kas yang akan diterima

2)      Keuntungan potensial yang diperoleh perusahaan

3)      Konsep legal dari harta kekayaan (properti) dapat mempengaruhi definisi akuntansi atas aktiva.

4)      Dapat diperoleh di masa lalu atau dari transaksi atau peristiwa saat ini.

5)      Dapat dipertukarkan.

 

Dari uraian di atas, definisi yang diperlukan hendaknya mampu memenuhi generalisasi penerapan yang diminta kerangka konseptual dan  memperhitungkan karakteristik berikut ini :

  • Aktiva hanya mencerminkan sumber daya ekonomi dan tidak termasuk “beban yang ditangguhkan”
  • Aktiva mencerminkan potensi arus kas bagi perusahaan
  • Aktiva mencerminkan hak legal yang mengikat kepada keuntungan tertentu, hasil-hasil dari masa lalu atau transaksi saat ini dan meliputi seluruh komitmen, seperti dalam kontrak pelaksanaan
  • Dapat dipertukarkan bukan merupakan karakteristik yang penting dari aktiva kecuali untuk “beban yang ditangguhkan” agar tetap memasukkan semua yang tidak berwujud sebagai aktiva dan tidak memasukkan beban yang ditangguhkan

 

KEWAJIBAN

  1. Pandangan Aktiva/Kewajiban

Kewajiban adalah keharusan perusahaan untuk mentransfer sumber daya ekonomi kepada entitas lain di masa depan.

  1. Pandangan Pendapatan/Beban

Kewajiban juga kredit-kredit yang ditangguhkan dan cadangan tertentu yang tidak mencerminkan kewajiban untuk mentransfer sumber daya ekonomi namun dibutuhkan untuk prinsip penandingan yang benar dan penentuan laba.

  1. Pandangan yang timbul dari persepsi neraca

Kewajiban terdiri atas sumber modal dan meliputi kredit yang ditangguhkan serta cadangan tertentu yang tidak mencerminkan kewajiban untuk mentransfer sumber daya ekonomi.

Karakteristik Umum Kewajiban :

  1. Pengorbanan sumber daya ekonomi di masa depan
  2. Mencerminkan tanggung jawab bagi satu perusahaan tertentu
  3. Kewajiban dapat dibatasi hanya berupa utang-utang sah (legal)
  4. Kewajiban terjadi dari transaksi atau peristiwa masa lalu atau yang terjadi saat ini

 

PENGHASILAN

  1. Pandangan Aktiva/Kewajiban

Peningkatan dari aktiva bersih perusahaan diluar beban-beban “modal”.

  1. Pandangan Pendapatan/Beban

Penghasilan diperoleh dari penandingan antara pendapatan dan keuntungan serta mungkin pula dari keuntungan dan kerugian.

Setiap komponen dari penghasilan (penndapatan, beban, keuntungan, dan kerugian) dapat didefinisikan sebagai berikut :

1) Pendapatan dan Beban

  • Menurut pandangan aktiva/kewajiban, pendapatan didefinisikan sebagai peningkatan  aktiva dan penurunan kewajiban yang tidak mempengaruhi modal.

Begitu pula beban, yang mencakup keuntungan dan kerugian, didefinisikan sebagai penurunan aktiva atau peningkatan kewajiban yang timbul dari penggunaan sumber daya ekonomi dan jasa selama satu periode tertentu.

  • Menurut pandangan pendapatan/beban, pendapatan, mencakup keuuntungan dan kerugian yang timbul dari penjualan barang dan jasa dan pertukaran aktiva selain dari persediaan, bunga, dan dividen yang diperoleh dari investasi dan peningkatan-peningkatan lain dari ekuitas pemilik selama satu periode diluar kontribusi dan penyesuaian modal.

Beban merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan pendapatan periode tertentu.

2) Keuntungan dan Kerugian

  • Menurut pandangan aktiva/kewajiban, keuntungan merupakan meningkatnya aktiva bersih di luar peningkatan dari pendapatan atau perubahan modal.

Kerugian merupakan menurunnya aktiva bersih di luar penurunan dari beban atau perubahan modal.

  • Menurut pandangan pendapatan/beban, keuntungan merupakan kelebihan penerimaan diatas harga perolehan dari aktiva  yang dijual.

Kerugian didefinisikan sebagai kelebihan di atas penerimaan yang dijual, dibuang, atau hancu sebagian karena kecelakaan.

3) Hubungan antara penghasilan dan komponen-komponen

  1. Laba = Pendapatan – Beban + Keuntungan – Kerugian
  2. Laba = Pendapatan – beban
  3. Laba = Pendapatan (termasuk keuntungan) – beban (termasuk kerugian)

4) Akuntansi Akrual

Hal-hal yang mendasari konsep akuntansi akrual :

  • Akrual adalah proses akuntansi yang mengakui peristiwa dan kejadian nonkas pada saat mereka terjadi atau dengan kata lain pengakuan pendapatan dan peningkatan aktiva yang berkaitan dengan pengakuan beban dan peningkatan kewajiban yang berkaitan dalam jumlah tertentu yang diharapkan akan diterima atau dibayarkan, biasanya dalam bentuk kas di masa depan.
  • Penaggguhan adalah proses akuntansi yang mengakui penerimaan kas saat ini sebagai kewajiban dan mengakui pembayaran kas saat ini sebagai aktiva dengan harapan akan terjadi dampak di masa yang akan datang.
  • Alokasi adalah proses akuntansi yang menempatkan jumlah tertentu menurut rencana atau rumus tertentu.
  • Amortisasi adalah proses akuntansi untuk secara sistematis memperkecil jumlah tertentu melalui pembayaran ataupun penghapusan secara berkala.
  • Realisasi adalah proses pengkonversian sumber daya dan hak-hak nin kas menjadi uang. Realisasi paling tepat digunakan dalam pelaporan akuntansi dan keuangan untuk merujuk kepada penjualan aktiva untuk mendapatkan sejumlah uang atau klaim atas sejumlah uang.

Pengakuan adalah proses pencatatan atauu pemasukan secara formal suatu hal dalam rekeningg dan laporan keuangan perusahaan

 

KEBIJAKAN AKUNTANSI

Perusahaan perlu menentukan pilihan di antara berbagai metode akuntansi yang berbeda-beda dalam melakukan pencatatan transaksi dan pembuatan laporan keuangannya. Pilihan-pilihan ini ditentukan oleh prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum, mencerminkan kebijakan akuntansi dari perusahaan tersebut.

Kebijakan tersebut paling tepat didefinisikan oleh Accounting Principles Board dengan Opini No.22, Pengungkapan dari Kebijakan yang disetujui (April 1972) paragraph 6 :

Kebijakan akuntansi dari suatu entitas pelaporan adalah prinsip-prinsip akuntansi yang spesifik dan metode-metode penerapan prinsip-prinsip tersebut yang dinilai oleh manajemen dari entitas tersebut sebagai yang paling sesuai dengan kondisi yang ada untuk menyajikan secara wajar posisi keuangan, perubahan yang terjadi pada posisi keuangan, dan hasil operasi sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum dan karena itu telah diadopsi untuk pembuatan laporan keuangan.

Kebijakan akuntansi meliputi pilihan prinsip-prinsip, dasar-dasar, konvensi, peraturan dan prosedur yang digunakan manajemen dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Beberapa jenis kebijakan akuntansi dapat digunakan untuk subjek yang sama. Pertimbangan dan atau pemilihan perlu disesuaikan dengan kondisi perusahaan. Sasaran pilihan kebijakan yang paling tepat akan menggambarkan realitas ekonomi perusahaan secara tepat dalam bentuk keadaan keuangan dan hasil operasi.

Tiga pertimbangan pemilihan untuk penerapan kebijakan akuntansi yang paling tepat dan penyiapan laporan keuangan oleh manajemen:

1) Pertimbangan Sehat

Ketidakpastian melingkupi banyak transaksi. Hal tersebut harusnya diakui dalam penyusunan laporan keuangan. Sikap hati-hati tidak membenarkan penciptaan cadangan rahasia atau disembunyikan.

2) Substansi Mengungguli Bentuk

Transaksi dan kejadian lain harus dipertanggungjawabkan dan disajikan sesuai dengan hakekat transaksi dan realitas kejadian, tidak semata-mata mengacu bentuk hukum transaksi atau kejadian.

3) Materialitas

Laporan keuangan harus mengungkapkan semua komponen yang cukup material yang mempengaruhi evaluasi atau keputusan-keputusan.

Laporan keuangan harus jelas dan dapat dimengerti, berdasar pada kebijakan akuntansi yang berbeda di antara suatu perusahaan dengan perusahaan lain, dalam satu negara maupun antar negara. Pengungkapan kebijakan akuntansi dalam laporan keuangan dimaksudkan agar laporan keuangan tersebut dapat dimengerti.

Pengungkapan kebijakan tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan. Pengungkapan hal ini sangat membantu pemakai laporan keuangan, karena kadang-kadang perlakuan yang tidak tepat atau salah digunakan untuk suatu komponen neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, atau laporan lainnya terbias dari pengungkapan kebijakan terpilih.

 

Keanekaragaman Kebijakan Akuntansi dan Pengungkapannya

Tugas interpretasi laporan keuangan sulit dilaksanakan jika menggunakan berbagai kebijakan beberapa bidang (akuntansi keuangan, akuntansi manajemen, dan lain-lain) atau wilayah akuntansi yang berbeda (wilayah akuntansi per negara, kumpulan negara dan lain-lain)

Di dunia belum ada sebuah daftar tunggal kebijakan akuntansi dapat digunakan bersama-sama, sehingga para pemakai dapat memilih dari daftar tunggal itu, sehingga perbedaan pilihan kebijakan berdasar pertimbangan kejadian, syarat dan kondisi yang serupa.

Contoh berikut adalah bidang yang menimbulkan perbedaan kebijakan akuntansi dan karena itu diperlukan pengungkapan atas perlakuan akuntansi terpilih:

Umum

  • Kebijakan konsolidasi
  • Konversi atau penjabaran mata uang asing meliputi pengakuan keuntungan dan kerugian pertukaran
  • Kebijakan penilaian menyeluruh seperti harga perolehan, daya beli umum, nilai penggantian
  • Peristiwa setelah tanggal neraca
  • Sewa guna usaha, sewa beli atau transaksi cicilan dan bunga
  • Pajak
  • Kontrak jangka panjang
  • Franchise atau waralaba

Aktiva

  • Piutang
  • Persediaan (persediaan dan barang dalam proses) dan beban pokok penjualannya
  • Aktiva dapat disusutkan dan penyusutan
  • Tanaman belum menghasilkan
  • Tanah yang dimiliki untuk pembangunan dan biaya pembangunan
  • Investasi pada anak perusahaan, investasi dalam perusahaan asosiasi dan investasi lain
  • Penelitian dan pengembangan
  • Paten dan merek dagang
  • Goodwill

Kewajiban dan Penyisihan

  • Jaminan
  • Komitmen dan kontinjensi
  • Biaya pensiun dan tunjangan hari tua
  • Pesangon dan uang penggantian

Keuntungan dan kerugian

  • Metode pengakuan pendapatan
  • Pemeliharaan, reparasi-perbaikan (repairs), dan penyempurnaan – penambahan (improvement)

Untung-rugi penjualan aktiva

  • Akuntansi Dana, wajib atau tak wajib, termasuk pembebanan dan pengkreditan langsung ke perkiraan surplus

 

Kebijakan akuntansi dewasa ini tidak secara teratur dan tidak secara penuh diungkapkan dalam semua laporan keuangan. Perbedaan besar masih terjadi dalam bentuk, kejelasan dan kelengkapan pengungkapan yang ada dalam suatu negara maupun antar negara atas kebijakan akuntansi harus diungkapkan. Dalam sebuah laporan keuangan, beberapa kebijakan akuntansi yang penting telah diungkapkan sementara kebijakan akuntansi yang penting lain tidak diungkapkan.

Bahkan pada negara-negara yang mewajibkan pengungkapan atas kebijakan akuntansi penting, tak selalu tersedia pedoman yang menjamin keseragaman metode pengungkapan. Pertumbuhan perusahaan multinasional dan pertumbuhan teknologi keuangan internasional telah memperbesar kebutuhan keseragaman laporan keuangan melewati batas negara.

Laporan keuangan seharusnya menunjukkan hubungan angka-angka dengan periode sebelumnya. Jika perubahan kebijakan akuntansi berpengaruh material, perubahan kebijakan perlu diungkapkan, dampak perubahan secara kuantitatif harus dilaporkan.

Perubahan kebijakan akuntansi yang tidak mempunyai pengaruh material dalam tahun perubahan juga harus diungkapkan jika berpengaruh secara material terhadap tahun-tahun yang akan datang .

 


PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NOMOR 1

PENGUNGKAPAN KEBIJAKAN AKUNTANSI

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 1 terdiri dari paragraf 15-22. Pernyataan ini harus dibaca dalam konteks paragraf 1-14 dan Kerangka Dasar Penyusunan dan Pelaporan Informasi Keuangan.

  • Asumsi dasar atau konsep dasar akuntansi adalah kelangsungan usaha dan dasar akrual. Jika asumsi dasar akuntansi tersebut telah dipatuhi dalam laporan keuangan, pengungkapan atas asumsi tersebut tidak diperlukan. Bila asumsi dasar akuntansi tersebut tidak diikuti, maka penyimpangan tersebut harus diungkapkan bersama dengan alasannya.
  • Pertimbangan sehat, substansi mengungguli bentuk dan materialitas harus menjadi pertimbangan pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi.
  • Laporan keuangan harus mencantumkan pengungkapan jelas ringkas dari semua kebijakan akuntansi penting terpilih-digunakan .
  • Pengungkapan kebijakan akuntansi penting terpilih digunakan harus merupakan bagian integral laporan keuangan. Kumpulan kebijakan-kebijakan tersebut lazimnya diungkapkan pada suatu tempat tertentu dalam Laporan Keuangan.
  • Perlakuan salah atau tidak tepat atas komponen neraca, laporan laba rugi atau laporan lain tidak diperbaiki oleh pengungkapan kebijakan akuntansi terpilih-digunakan dan atau tidak diperbaiki dalam catatan atas laporan keuangan atau penjelasan tambahan.
  • Laporan keuangan harus memperlihatkan hubungan informasi dengan periode sebelum dan setelahnya.
  • Perubahan kebijakan akuntansi berpengaruh material periode sekarang atau dapat berpengaruh material periode yang akan datang harus diungkapkan bersama alasannya. Pengaruh perubahan, jika material, harus diungkapkan secara kuantitatif.

 

Berikut ini kebijakan akuntansi  yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan Perusahaan yang dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

a)      Dasar Pengukuran dan Penyusunan Laporan Keuangan

Laporan Keuangan ini telah disajikan sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, yaitu Standar Akuntansi Keuangan, peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dan Pedoman Penyajian Laporan Keuangan yang ditetapkan oleh Bapepam bagi perusahaan manufaktur yang menawarkan sahamnya kepada masyarakat.

Laporan keuangan disusun berdasarkan konsep harga perolehan dengan dasar akrual, kecuali laporan arus kas, dan dilaporkan dalam Rupiah. Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung (direct method) dengan mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.

Mata uang pelaporan yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan ini adalah rupiah.

b)      Kas dan Setara Kas

Kas dan Setara kas meliputi kas, bank dan investasi yang jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang sejak tanggal penempatannya dan tidak dijaminkan.

 

c)      Piutang

Penyisihan piutang ragu-ragu ditetapkan berdasarkan penelaahan terhadap kemungkinan tertagihnya piutang tersebut pada akhir periode yang bersangkutan.

d)     Transaksi dengan Pihak Hubungan Istimewa

Perusahaan melakukan transaksi dengan beberapa pihak yang mempunyai hubungan istimewa/afiliasi. Yang dimaksud dengan hubungan istimewa adalah :

  • perusahaan yang melalui satu atau lebih perantara (intermediaries), mengendalikan atau dikendalikan oleh, atau berada di bawah pengendalian bersama, denga perusahaan pelapor (termasuk holding companies, subsidiaries dan fellow subsidiaries);
  • perusahaan asosiasi (associated company);
  • perorangan yang memiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu kepentingan hak suara di perusahaan pelapor yang berpengaruh secara signifikan, dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksud dengan anggota keluarga dekat adalah mereka yang dapat diharapkan mempengaruhi atau dipengaruhi perorangan tersebut dalam transaksinya dengan perusahaan pelapor);
  • karyawan kunci, yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin dan mengendalikan kegiatan perusahaan pelapor yang meliputi anggota dewan komisaris, direksi dan manajer dari perusahaan serta anggota keluarga dekat orang-orang tersebut.
  • perusahaan di mana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan dalam (3) dan (4), atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut. Ini mencakup perusahaan-perusahaan yang dimiliki anggota dewan komisaris, direksi atau pemegang saham utama dari perusahaan pelapor dan perusahaan-perusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan perusahaan pelapor.

e)      Uang Muka

Uang muka pembelian aktiva tetap seperti : disk ang tank amonia, reaktor, kendaraan, pendingin, AC, genset dan lain-lain yang dicatat secara terpisah dari aktiva tetap

f)       AKtiva Tetap

  • Pemilikan langsung

Aktiva tetap diakui sebesar harga perolehan.

Penyusutan aktiva tetap dihitung dengan metode garis lurus berdasarkan taksiran manfaat ekonomis aktiva tetap yang bersangkutan.

Biaya pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laporan laba rugi pada saat terjadinya. Aktiva tetap yang sudah tidak dipergunakan lagi atau yang dijual dikeluarkan dari kelompok aktiva tetap sebesar nilai bukunya dan laba atau rugi yang terjadi dilaporkan dalam operasi periode yang bersangkutan.

  • Sewa Guna Usaha

Transaksi sewa guna usaha dikelompokkan sebagai capital lease apabila memenuhi criteria sebagai berikut :

  • Penyewa guna usaha memiliki hak opsi untuk membeli aktiva yang disewa guna usaha pada akhir masa sewa guna usaha dengan harga yang telah disetujui bersama pada saat dimulainya perjanjian sewa guna usaha.
  • Seluruh pembayaran berkala yang dilakukan oleh penyewa guna usaha ditambah dengan nilai sisa dapat menutup pengembalian biaya perolehan barang modal yang disewa guna usaha beserta bunganya sebagai keuntungan perusahaan sewa guna usaha.
  • Masa sewa guna usaha minimal dua tahun

Transaksi sewa guna usaha yang tidak memenuhi kriteria tersebut di atas dikelompokkan sebagai transaksi sewa menyewa biasa (operating lease).

g)      dll.

 

KONSEP LABA DALAM PELAPORAN KEUANGAN

 

Laba merupakan suatu pos dasar dan penting dari ikhtisar keuangan yang merniliki berbagai kegunaan dalam berbagai konteks. Laba pada umumnya dipandang sebagai suatu dasar bagi perpajakan, determinan pada kebijakan pembayaran dividen, pedoman investasi, dan pengambilan keputusan, dan unsur prediksi (Belkaoui,1993) Dalam SFAC no. 1 menyebutkan bahwa informasi laba merupakan komponen laporan keuangan yang disediakan dengan tujuan membantu menyediakan informasi untuk menilai kinerja manajemen, mengestimasi kemampuan laba yang representative dalam jangka panjang dan menaksir resiko dalam investasi atau kredit. Pengertian laba secara konvensional adalah nilai maksimum yang dapat dibagi atau di konsumsi selama satu periode akuntansi dimana keadaan pada akhir periode masih sama seperti pada awal periode.

Laba dalam teori akuntansi biasanya lebih menunjuk pada konsep yang oleh FASB disebut dengan laba komprehensif. Laba komprehensif dimaknai sebagai kenaikan aset bersih selain yang berasal dari transaksi dengan pemilik. Sedangkan earning adalah laba yang diakumulasikan selama beberapa periode atau kenaikan ekuitas atau aktiva neto suatu perusahaan yang disebabkan karena aktivitas operasi maupun aktivitas di luar usaha selama periode tertentu. Earning merupakan konsep yang paling sempit sedang comprehensive income merupakan konsep paling luas (Muqodim, 2005:110).

Di dalam laba akuntansi terdapat berbagai komponen yaitu kombinasi beberapa komponen pokok seperti laba kotor , laba usaha, laba sebelum pajak dan laba sesudah pajak (Muqodim, 2005:131). Sehingga dalam menentukan besarnya laba akuntansi investor dapat melihat dari perhitungan laba setelah pajak. SFAC No. 1 dalam Belkaoui (2000:332) mengasumsikan bahwa laba akuntansi merupakan ukuran yang baik dari kinerja suatu perusahaan dan bahwa laba akuntansi dapat digunakan untuk meramalkan arus kas masa depan. Penulis lain mengasumsikan bahwa laba akuntansi adalah relevan dengan cara yang biasa untuk model-model keputusan dari investor dan kreditor.

Laba akuntansi dengan berbagai interpretasinya diharapkan dapat digunakan antara lain sebagai (Suwardjono, 2005: 456) :

1)      Indikator efisiensi penggunaan dana yang tertanam dalam perusahaan yang diwujudkan dalam tingkat kembalian atas investasi (rate of retun on inuested capital).

2)      Pengukur prestasi atau kinerja badan usaha dan manajemcn.

3)      Dasar penentuan besarnya pengenaan pajak.

4)      Alat pengendalian alokasi sumber daya ekonomik suatu negara.

5)      Dasar penentuan dan penilaian kelayakan tarif dalam perusahaan public.

6)      Alat pengendalian terhadap debitor dalam kontrak utang.

7)      Dasar kompensasi dan pembagian bonus.

8)      Alat motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan.

9)      Dasar pembagian dividen.

Bila dilihat secara mendalam, laba akuntansi bukanlah definisi yang sesungguhnya dari laba melainkan hanya merupakan penjelasan mengenai cara untuk menghitung laba. Karakteristik dari pengertian laba akuntansi semacam itu mengandung beberapa keunggulan. Beberapa keunggulan laba akuntansi yang dikemukakan oleh Muqodim (2005 : 114) adalah:

ü  Terbukti teruji sepanjang sejarah bahwa laba akuntansi bermanfaat bagi para pemakainya dalam pengambilan keputusan ekonomi.

ü  Laba akuntansi telah diukur dan dilaporkan secara obyektif dapat diuj kebenarannya sebab didasarkan pada transaksi nyata yang didukung oleh bukti.

ü  Berdasarkan prinsip realisasi dalam mengakui pendapatan laba akuntansi memenuhi dasar konservatisme.

ü  Laba akuntansi bermanfaat untuk tujuan pengendalian terutama berkaitan dengan pertanggungjawaban manajemen.

TUJUAN PELAPORAN LABA

Salah satu tujuan pelaporan keuangan adalah memberikan informasi keuangan yang dapat menunjukan prestasi perusahaan dalam menghasilkan laba (earning per share). Dengan konsep yang selama ini digunakan diharapkan para pemakai laporan dapat mengambil keputusan ekonomi yang tepat sesuai dengan kepentingannya. Meskipun konsep laba yang digunakan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan para pemakai, namun adanya berbagai konsep dan tujuan laba, mengakibatkan konsep laba tunggal tidak dapat memenuhi semua kebutuhan pihak pemakai laporan. Atas dasar kenyataan ini ada dua alternative yang dapat digunakan yaitu memformulasikan konsep laba tunggal untuk memenuhi berbagai tujuan secara umum atau menggunakan berbagai konsep laba dan menyajikan secara jelas konsep laba tersebut secara khusus.

Tanpa memperhatikan masalah yang muncul, informasi laba sebenarnya dapat digunakan untuk memnuhi berbagai tujuan. Tujuan pelaporan laba adalah untuk meyajikan informasi yang bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan. Informasi tentang laba perusahaan dapat digunakan :

  1. Sebagai indicator efisiensi penggunaan dana yang tertanam dalam perusahaan yang diwujudkan dalam tingkat kembalian (rate of return on invested capital)
  2. Sebagai pengukur prestasi manajemen
  3. Sebagai dasar penentuan besarnya pengenaan pajak
  4. Sebagai alat pengendalian alokasi sumber daya ekonomi suatu Negara
  5. Sebagai dasar kompensasi dan pembagian bonus
  6. Sebagai alat motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan
  7. Sebagai dasar untuk kenaikan kemakmuran
  8. Sebagai dasar pembagian deviden

KUALITAS INFORMASI LABA

M. Yusuf, dkk (2002) menyebutkan bahwa informasi laba harus dilihat dalam kaitannya dengan persepsi pengambilan keputusan. Karena kualitas informasi laba ditentukan oleh kemampuannya memotivasi tindakan individu dan membantu pengambilan keputusan yang efektif. Hal ini didukung oleh FASB yang menerbitkan SFAC No. 1 yang menganggap bahwa laba akuntansi merupakan pengukuran yang baik atas prestasi perusahaan dan oleh karena itu laba akuntansi hendaknya dapat digunakan dalam prediksi arus kas dan laba di masa yang akan datang.

Berdasarkan latar belakang tersebut, Hendriksen dalam bukunya Accounting Theory edisi kelima (1992:338) menetapkan tiga konsep dalam usaha mendefinisikan dan mengukur laba menuju tingkatan bahasa. Adapun konsep-konsep tersebut meliputi:

a. Konsep Laba pada Tingkat Sintaksis (Struktural)

Pada tingkat sintaksis konsep income dihubungkan dengan konvensi (kebiasaan) dan aturan logis serta konsisten dengan mendasarkan pada premis dan konsep yang telah berkembang dari praktik akuntansi yang ada. Terdapat dua pendekatan pengukuran laba (income measurement) pada tingkat sintaksis, yaitu: Pendekatan Transaksi dan Pendekatan Aktiva.

b. Konsep Laba pada Tingkat Sematik (Interpretatif)

Pada konsep ini income ditelaah hubungannya dengan realita ekonomi. Dalam usahanya memberikan makna interpretatif dari konsep laba akuntansi (accounting income), para akuntan seringkali merujuk pada dua konsep ekonomi. Kedua konsep ekonomi tersebut adalah Konsep Pemeliharaan Modal dan Laba sebagai Alat Ukur Efisiensi.

c. Konsep Laba pada Tingkat Pragmatis (Perilaku)

Pada tingkat pragmatis (perilaku) konsep income dikaitkan dengan pengguna laporan keuangan terhadap informasi yang tersirat dari laba perusahaan. Beberapa reaksi usaha users dapat ditunjukkan dengan proses pengambilan keputusan dari investor dan kreditor, reaksi harga surat terhadap pelaporan income atau reaksi umpan balik (feedback) dari manajemen dan akuntan terhadap income yang dilaporkan.

Konsep income ini paling tidak harus memberikan implikasi income sebagai bahan pengambilan keputusan manajemen.

 

PENGUKURAN & PENGAKUAN LABA

Pengukuran terhadap laba merupakan penentuan jumlah rupiah laba yang dicatat dan disajikan dalam laporan keuangan. Pengukuran besarnya laba sangat tergantung pada besarnya pendapatan dan biaya. Karena laba adalah bagian dari pendapatan, maka konsep penghimpunan an realisasi pendapatan juga berlaku untuk laba. Dengan demikian perlakuan akuntansi terhadap laba tidak akan menyimpang dari perlakuan akuntansi terhadap pendapatan.

Oleh karena laba merupakan selisih antara pendapatan dan biaya, secara umum laba diakui sejalan dengan pengakuan pendapatan dan biaya. Dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, IAI (1994) menyebutkan bahwa:

penghasilan (income) akan diakui apabila kenaikan manfaat ekonomi di masa mendatang yang berkaitan dengan peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban telah terjadi dan jumlahnya dapat diukur dengan andal. (paragrap 92)

Secara konseptual ada tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur laba. Pendekatan tersebut adalah pendekatan transaksi, pendekatan kegiatan dan pendekatan mempertahankan capital/kemakmuran (capital maintenence)

 

  1. A. Pendekatan Transaksi

Pendekatan transaksi menganggap bahwa perubahan aktiva / hutang (laba) terjadi hanya karena transaksi, baik internal maupun eksternal. Transaksi eksternal timbul karena adanya transaksi yang melibatkan perubahan aktiva /hutang dengan pihak luar perusahaan. Transaksi internal timbul dari pemakaian atau konversi aktiva dalam perusahaan.

Pada saat transaksi eksternal terjadi, nilai pasar dapat dijadikan dasar untuk mengakui pendapatan. Transaksi internal berasal dari perubahan nilai, yaitu perubahan nilai dari pemakaian atau konversi aktiva. Apabila konversi telah terjadi, maka nilai aktiva lama akan diubah menjadi aktiva baru.konsep atau pendekatan ini sama dengan konsep realisasi pendapatan.

Pendekatan ini memiliki beberapa kebaikan yaitu :

  1. Komponen laba dapat dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara. Misalnya : atas dasar, produk /konsumen.
  2. Laba operasi dapat dipisahkan dari laba non operasi.
  3. Dapat dijadikan dasar dalam penentuan tipe dan kuantitas aktiva dan hutang yang ada pada akhir periode.
  4. Efisiensi usaha memerlukan pencatatan transaksi external untuk berbagai tujuan.
  5. Berbagai laporan dapat dibuat dan dikaitkan antara laporan yang satu dengan yang lainnya.
  6. B. Pendekatan Kegiatan

Laba dianggap timbul bila kegiatan tertentu telah dilaksanakan. Jadi laba bisa timbul pada tahap perencanaan, pembelian, produksi, penjualan dan pengumpulan kas. Dalam penerapannya, pendekatan ini merupakan perluasan dari pendekatan transaksi. Hal ini disebabkan pendekatan kegiatan dimulai dengan transaksi sebagai dasar pengukuran. Perbedaannya adalah bahwa pendekatan transaksi didasarkan pada proses pelaporan yang mengukur transaksi dengan pihak luar.

Sementara pendekatan kegiatan didasarkan pada konsep peristiwa/ kegiatan dalam arti luas, tidak dibatasi pada kegiatan dengan pihak luar. Meskipun demikian keduanya gagal menunjukan pengukuran laba dalam dunia nyata. Hal ini disebabkan dua pendekatan tersebut di dasarkan pada hubungan struktural yang sama yang tidak ada dalam dunia nyata.

Kebaikan pendekatan kegiatan adalah :

  1. Laba yang berasal dari produksi dan penjualan barang memerlukan jenios evaluasi dan prediksi yang berbeda dibandingkan laba yang berasal dari pembelian dan penjualan surat berharga yang ditukar pada usaha memperoleh capital gain.
  2. Effisiensi manajemen dapat diukur dengan lebih baik bila laba diklasifikasikan menurut jenis kegiatan yang menjadi tanggung jawab manajemen.
  3. Memungkinkan prediksi yang lebih baik karena adanya perbedaan pola perilaku dari jenis kegiatan yang berbeda.

 

  1. C. Pendekatan Mempertahankan Kemakmuran (Capital Maintenance Concept)

Atas dasar pendekatan ini, laba diukur dan diakui setelah kapital awal dapat dipertahankan. Sebelum membahas pengukuran laba atas dasar konsep mempertahankan kemakmuran/kapital, akan dibicarakan lebih dahulu mengenai konsep laba dan kapital.

Dalam konsep mempertahankan kemakmuran, kapital (capital) artian luas dan dalam berbagai bentuknya. Jadi kapital diartikan sebagai sekelompok kekayaan tanpa memperhatikan siapa yang memiliki kekayaan tersebut. Kam (1990) mendefinisikan laba sebagai berikut :

Laba (income) adalah perubahan dalam kapital perusahaan diantara dua titik waktu yang berbeda (awal dan akhir), diluar perubahan karena investasi oleh pemilik dan distribusi kepada pemilik, dimana kapital dinyatakan dalam bentuk nilai (value) dan didasarkan pada skala pengukuran tertentu (p. 194)

Sementara Hendrikson (1989) mengartikan kapital laba sebagai berikut : Laba adalah aliran jasa sepanjangperiode waktu. Kapital adalah persediaan kemakmuran (the embodiment of future services), dan laba merupakan aliran kemakmuran yang dapat dinikmati selama satu periode tertentu (p. 142)

Dari pengertian di atas, dapat dirumuskan bahwa atas dasar konsep kapital sebagai tingkat kemakmuran, maka laba merupakan aliran kemakmuran yang dapat di konsumsikan (dinikmati) selama satu periode, tanpa mengurangi tingkat kemakmuran sebelumnya. Dengan demikian laba dapat diukur dari selisih antara tingkat kemakmuran pada akhir periode dengan tingkat kemakmuran pada awal periode [ Laba = total aktiva neto (akhir periode)- kapital yang diinvestasikan (awal periode)]. Konsep pengukuran laba ini disebut dengan konsep mempertahankan kapital/kemakmuran (wealth or capital maintenance concept).

Kapital yang digunakan dalam konsep ini adalah kapital neto (net-worth) atau aktiva neto. Kapital dinyatakan dalam bentuk nilai ekonomi pada skala pengukuran tertentu. pengukuran terhadap sangat dipengaruhi oleh nilai (unit pengukur), jenis kapital, dan skala pengukuran. Perbedaan terhadap ketiga faktor tersebut akan mengakibatkan perbedaan besarnya laba yang diperoleh.

 

 

KEBIJAKAN AKUNTANSI

 

Kebijakan Akuntansi dari suatu entitas pelaporan adalah prinsip-prinsip akuntansi yang spesifik dan metode-metode penerapan prinsip-prinsip tersebbut yang dinilai oleh manajemen dari entitas tersebut sebagai yang paling sesuai dengan kondisi yang ada untuk menyajikan secara wajar posisi keuangan, perubahan yang terjadi pada posisi keuangan, dan hasil operasi sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum dan karena itu telah diadopsi untuk pembuatan laporan keuangan.

Kebijakan akuntansi meliputi pilihan prinsip-prinsip, dasar-dasar, konvensi, peraturan dan prosedur yang digunakan manajemen dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Beberapa jenis kebijakan akuntansi dapat digunakan untuk subjek yang sama. Pertimbangan dan atau pemilihan perlu disesuaikan dengan kondisi perusahaan. Sasaran pilihan kebijakan yang paling tepat akan menggambarkan realitas ekonomi perusahaan secara tepat dalam bentuk keadaan keuangan dan hasil operasi.

Tiga pertimbangan pemilihan untuk penerapan kebijakan akuntansi yang paling tepat dan penyiapan laporan keuangan oleh manajemen:

  1. 1. Pertimbangan Sehat

Ketidakpastian melingkupi banyak transaksi. Hal tersebut harusnya diakui dalam penyusunan laporan keuangan. Sikap hati-hati tidak membenarkan penciptaan cadangan rahasia atau disembunyikan.

  1. 2. Substansi Mengungguli Bentuk

Transaksi dan kejadian lain harus dipertanggungjawabkan dan disajikan sesuai dengan hakekat transaksi dan realitas kejadian, tidak semata-mata mengacu bentuk hukum transaksi atau kejadian.

  1. 3. Materialitas

Laporan keuangan harus mengungkapkan semua komponen yang cukup material yang mempengaruhi evaluasi atau keputusan-keputusan.

Laporan keuangan harus jelas dan dapat dimengerti, berdasar pada kebijakan akuntansi yang berbeda di antara suatu perusahaan dengan perusahaan lain, dalam satu negara maupun antar negara. Pengungkapan kebijakan akuntansi dalam laporan keuangan dimaksudkan agar laporan keuangan tersebut dapat dimengerti. Pengungkapan kebijakan tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan. Pengungkapan hal ini sangat membantu pemakai laporan keuangan, karena kadang-kadang perlakuan yang tidak tepat atau salah digunakan untuk suatu komponen neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, atau laporan lainnya terbias dari pengungkapan kebijakan terpilih.

Kebijakan Akuntansi :

a. Dasar Penyusunan dan Pengukuran Laporan Keuangan Konsolidasi

Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan prinsip dan praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, yakni Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan dan Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) (sekarang Bapepam dan LK)

Dasar pengukuran laporan keuangan konsolidasi ini adalah konsep biaya perolehan (historical cost), kecuali beberapa akun tertentu disusun berdasarkan pengukuran lain, sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut, antara lain persediaan yang dinyatakan sebesar nilai uang lebih rendah antara biaya perolehan atau nilai realisasi bersih (the lower of cost or net realizable value). Laporan keuangan konsolidasi ini disusun dengan metode akrual, kecuali laporan arus kas.

Laporan arus kas konsolidasi disusun dengan menggunakan metode langsung dengan mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.

Mata uang pelaporan yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi adalah mata uang Rupiah (Rp).

b. Prinsip Konsolidasi

Laporan keuangan konsolidasi meliputi laporan keuangan Perusahaan dan anak perusahaan yang dikendalikannya, dimana Perusahaan memiliki lebih dari 50 %, baik langsung maupun tidak langsung, hak suara di anak perusahaan dan dapat menentukan kebijakan keuangan dan operasi dari anak perusahaan untuk memperoleh keuntungan dari aktivitas anak perusahaan tersebut. Sebuah anak perusahaan tidak dikonsolidasikan apabila sifat pengendaliannya adalah sementara karena anak perusahaan tersebut diperoleh dengan tujuan akan dijual kembali dalam waktu dekat; atau jika ada pembatasan jangka panjang yang mempengaruhi kemampuan anak perusahaan untuk memindahkan dananya ke Perusahaan.

Saldo atas transaksi termasuk keuntungan atau kerugian yang belu direalisasi atas transaksi antar perusahaan dieliminasi untuk mencerminkan posisi keuangan dan hasil usaha Perusahaan dan anak perusahaan sebagai satu kesatuan usaha.

Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi yang sama untuk peristiwa dan transaksi sejenis dalam kondisi yang sama. Apabila anak perusahaan menggunakan kebijakan akuntansi yang berbeda dari kebijakan akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan konsolidasi, maka dilakukan penyesuaian yang diperlukan terhadap laporan keuangan anak perusahaan tersebut.

Hak minoritas atas laba bersih dan ekuitas anak perusahaan dinyatakan sebesar proporsi pemegang saham minoritas atas laba bersih dan ekuitas anak perusahaan tersebut sesuai dengan presentase kepemilikan pemegang saham minoritas pada anak perusahaan tersebut.

Kerugian yang menjadi bagian pemegang saham minoritas pada suatu anak perusahaan dapat melebihi bagiannya dalam modal disetor. Kelebihan tersebut dan kerugian lebih lanjut yang menjadi bagian pemegang saham minoritas, harus dibebankan kepada pemegang saham mayoritas, kecuali terdapat kewajiban yang mengikat pemegang saham minoritas untuk menutupi kerugian tersebut dan pemegang saham minoritas mampu memenuhi kewajibannya. Apabila pada periode selanjutnya, anak perusahaan melaporkan laba, maka laba tersebut harus terlebih dahulu dialokasikan kepada pemegang saham mayoritas sampai seluruh bagian kerugian pemegang saham minoritas yang dibebankan pada pemegang saham mayoritas dapat ditutup.

Pada saat akuisisi, aktiva dan kewajiban anak perusahaan diukur sebesar nilai wajarnya pada tanggal akuisisi. Jika biaya perolehan lebih rendah dari bagian perusahaan atas nilai wajar aktiva dan kewajiban yang dapat diidentifikasi yang diakui pada tanggal transaksi, maka nilai wajar aktiva non moneter yang diakuisisi harus diturunkan secara proporsional, sampai seluruh selisih tersebut tereliminasi. Sisa selisih lebih setelah penurunan nilai wajar aktiva dan kewajiban nonmoneter tersebut diakui sebagai goodwill negative, dan diperlakukan sebagai pendapatan ditangguhkan dan diakui sebagai pendapatan dengan menggunakan garis lurus selama 20 tahun.

c. Transaksi dan Penjabaran Laporan Keuangan Dalam Mata Uang Asing

Pembukuan Perusahaan dan anak perusahaan, kecuali Mayora Nederland B.V, diselenggarakan dalam mata uang Rupiah. Transaksi–transaksi selama tahun berjalan dalam mata uang asing dicatat dengan kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi. Pada tanggal neraca, aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing disesuaikan untuk mencerminkan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut. Keuntungan dan kerugian kurs yang timbul dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi konsolidasi tahun yang bersangkutan.

d. Transaksi Hubungan Istimewa

Pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah:

  1. Perusahaan yang melalui satu atau lebih perantara, mengendalikan atau dikendalikan oleh atau berada dibawah pengendalian bersama, dengan Perusahaan (termasuk holding companies, subsidiaries, dan fellow subsidiaries;
  2. Perusahaan asosiasi
  3. Perorangan yang memiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu kepentingan hak suara di perusahaan pelapor yang berpengaruh secara signifikan, dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksudkan dengan keluarga dekat adalah mereka yang dapat diharapaka mempengaruhi atau dipengaruhi perorangan tersebut dalam transaksinya dengan perusahaan pelapor);
  4. Karyawan kunci, yaitu orang-orang yang mempengaruhi wewenang dan tanggungjawab untuk merencanakan, memimpin, dan mengendalikan kegiatan Perusahaan yang meliputi anggota dewan komisaris, direksi dan manager dari Perusahaan serta anggota keluarga dekat orang-orang tersebut; dan
  5. Perusahaan dimana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan dalam butir (3) atau (4), atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut

e. Pajak Penghasilan

Pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang berlaku atau secara substansial telah berlaku pada tanggal neraca. Pajak tangguhan dibebankan atau dikreditkan dalam laporan laba rugi, kecuali pajak tangguhan yang dibebankan atau dikreditkan langsung ke ekuitas.

f. Laba per Lembar

Laba perlembar dasar dihitung dengan membagi laba bersih dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar pada tahun yang bersangkutan.

 

 

g. Informasi Segmen

Informasi segmen disusun sesuai dengan kebijakan akuntansi yang dianut dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasi. Bentuk primer pelaporan segmen adalah segmen usaha sedangkan segemen sekunder adalah segmen geografis.

 

Keanekaragaman Kebijakan Akuntansi dan Pengungkapannya

Tugas interpretasi laporan keuangan sulit dilaksanakan jika menggunakan berbagai kebijakan beberapa bidang (akuntansi keuangan, akuntansi manajemen, dan lain-lain) atau wilayah akuntansi yang berbeda (wilayah akuntansi per negara, kumpulan negara dan lain-lain).

Di dunia belum ada sebuah daftar tunggal kebijakan akuntansi dapat digunakan bersama-sama, sehingga para pemakai dapat memilih dari daftar tunggal itu, sehingga perbedaan pilihan kebijakan berdasar pertimbangan kejadian, syarat dan kondisi yang serupa.

Contoh berikut adalah bidang yang menimbulkan perbedaan kebijakan akuntansi dan karena itu diperlukan pengungkapan atas perlakuan akuntansi terpilih:

Umum

  • Kebijakan konsolidasi
  • Konversi atau penjabaran mata uang asing meliputi pengakuan keuntungan dan kerugian pertukaran
  • Kebijakan penilaian menyeluruh seperti harga perolehan, daya beli umum, nilai penggantian
  • Peristiwa setelah tanggal neraca
  • Sewa guna usaha, sewa beli atau transaksi cicilan dan bung
  • Pajak
  • Kontrak jangka panjang
  • Franchise atau waralaba

Aktiva

  • Piutang
  • Persediaan (persediaan dan barang dalam proses) dan beban pokok penjualannya
  • Aktiva dapat disusutkan dan penyusutan
  • Tanaman belum menghasilkan
  • Tanah yang dimiliki untuk pembangunan dan biaya pembangunan
  • Investasi pada anak perusahaan, investasi dalam perusahaan asosiasi dan investasi lain
  • Penelitian dan pengembangan
  • Paten dan merek dagang
  • Goodwill

Kewajiban dan Penyisihan

  • Jaminan
  • Komitmen dan kontinjensi
  • Biaya pensiun dan tunjangan hari tua
  • Pesangon dan uang penggantian

Keuntungan dan kerugian

  • Metode pengakuan pendapatan
  • Pemeliharaan, reparasi-perbaikan (repairs), dan penyempurnaan–penambahan (improvement)
  • Untung-rugi penjualan aktiva
  • Akuntansi Dana, wajib atau tak wajib, termasuk pembebanan dan pengkreditan langsung ke perkiraan surplus

Kebijakan akuntansi dewasa ini tidak secara teratur dan tidak secara penuh diungkapkan dalam semua laporan keuangan. Perbedaan besar masih terjadi dalam bentuk, kejelasan dan kelengkapan pengungkapan yang ada dalam suatu negara maupun antar negara atas kebijakan akuntansi harus diungkapkan. Dalam sebuah laporan keuangan, beberapa kebijakan akuntansi yang penting telah diungkapkan sementara kebijakan akuntansi yang penting lain tidak diungkapkan.

Bahkan pada negara-negara yang mewajibkan pengungkapan atas kebijakan akuntansi penting, tak selalu tersedia pedoman yang menjamin keseragaman metode pengungkapan. Pertumbuhan perusahaan multinasional dan pertumbuhan teknologi keuangan internasional telah memperbesar kebutuhan keseragaman laporan keuangan melewati batas negara.

Laporan keuangan seharusnya menunjukkan hubungan angka-angka dengan periode sebelumnya. Jika perubahan kebijakan akuntansi berpengaruh material, perubahan kebijakan perlu diungkapkan, dampak perubahan secara kuantitatif harus dilaporkan.

Perubahan kebijakan akuntansi yang tidak mempunyai pengaruh material dalam tahun perubahan juga harus diungkapkan jika berpengaruh secara material terhadap tahun-tahun yang akan datang.

 

—SISTEM PENCATATAN ADMINISTRASI KREDIT

Administrasi kredit harus ditata dengan sistem akuntansi yang cermat. Prinsipnya, manajemen harus dapat mengetahui berapa besar outstanding kredit yang telah diberikan kepada nasabah dan berapa besar komitmen kredit yang harus diberikan kepada nasabah. Komitmen ini merupakan kewajiban bank kepada para nasabahnya.

—Jenis Kredit Yang Diberikan Bank

Jenis kredit yang diberikan oleh suatu bank tergantung pada produk kredit yang ditawarkannya.

—Dari segi penggunaan maka jenis kredit a.l: kredit investasi, modal kerja, profesi, dsb —Dari segi jangka waktunya: kredit jangka pendek dan jangka panjang

—Akuntansi Kredit

Akuntansi kredit meliputi beberapa prosedur pencatatan meliputi:

—Persetujuan dan pemberian pagu kredit —Penarikan cek oleh nasabah —Pembebanan bunga kepada debitur —Pelunasan pokok pinjaman —Wanprestasi pembayara bunga —Penilaian debitur

—Wanprestasi Nasabah Debitu —Bila terjadi wanprestasi dalam pelunasan

pokok debitur harus dibedakan dengan debitur yang masih aktif. —Kredit dibedakan berdasarkan kolektibilitas kreditnya. —Kolektibilitas kredit terdiri dari: 1.Lancar 2.Kurang Lancar 3.Diragukan 4.Macet

—Penilaian Debitur pada Neraca —Penilaian debitur pada neraca akan dilakukan atas dasar kolektibilitas debitur yang outstanding. Penyisihan dibebankan kedalam ikhtisar laba rugi dalam rekening Biaya Penyisihan Debitur yang Diragukan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.