KERANGKA KONSEPTUAL FASB

KERANGKA KERJA KONSEPTUAL

Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) didefinisikan oleh  FASB sebagai :

a coherent system of interrelated objectives and fundamentals that is expected to lead to consistent standards and that prescribes the nature, function, and limits of financial accounting and reporting”.

Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) adalah suatu sistem koheren yang terdiri dari tujuan dan konsep fundamental yang saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi penetapan standar yang konsisten dan penentuan sifat, fungsi, serta batas- batas dari akuntansi keuangan dan laporan keuangan

Yang dimaksud tujuan adalah tujuan pelaporan keuangan. Sedangkan fundamentals (kaidah-kaidah pokok) adalah konsep-konsep yang mendasarai akuntansi keuangan, yakni yang menuntun kepada pemilihan transaksi, kejadian, dan keadaan-keadaan yang harus dipertanggungjawabkan, pengakuan dan pengukurannya, cara meringkas serta mengkomunikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Konsep-konsep yang bersifat pokok atau fundamental, artinya bahwa konsep-konsep lainnya mengalir dari konsep-konsep pokok tersebut yang diperlukan sebagai referensi berulang-ulang dalam menetapkan, menafsirkan, dan menetapkan standar akuntansi keuangan dan pelaporan.

 

Kebutuhan akan Kerangka Kerja Konseptual

  1. Kerangka kerja konseptual akan meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai laporan keuangan atas pelaporan keuangan, dan akan menaikkan komparabilitas antar laporan keuangan perusahaan.
  2. Masalah-masalah yang baru akan dapat dipecahkan secara cepat jika mengacu pada kerangka teori yang telah ada

 

Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual FASB (Financial Accounting Standard Board) telah menerbitkan enam statement of financial accounting concept yang berhubungan dengan pelaporan keuangan entitas bisnis, yaitu:

  • SFAC no. 1 “objective of financial reporting by business enterprises”, yang menyajikan tujuan dan sasaran akuntansi.
  • SFAC no. 2 “qualitative caracteristics of accounting information”, yang menjelaskan karakteristik yang membuat informasi akuntansi bermanfaat.
  • SFAC no. 3 “element of financial statement of business enterprises”, yang memberikan definisi dari pos-pos yang terdapat dalam laporan keuangan seperti aktiva, kewajiban, pendapatan dan beban.
  • SFAC no. 5 “recognition and measurement in financial statement of business enterprises”, yang menetapkan kriteria pengakuan dan pengukuran fundamental serta pedoman tentang informasi.
  • SFAC no. 6 “element of financial statement”, yang menggantikan SFAC no. 3 dan memperluas SFAC no. 3 dengan memasukkan organisasi-organisasi nirlaba.
  • SFAC no. 7 “using cash flow information and present value in accounting measurement”, yang memberikan kerangka kerja bagi pemakaian arus kas masa depan yang diharapkan dan nilai sekarang (present value) sebagai dasar pengukuran

 

TINGKAT PERTAMA: TUJUAN DASAR

  • Tujuan pelaporan keuangan (objectives of financial reporting) adalah untuk menyediakan informasi:

1)      yang berguna bagi mereka yang memiliki pemahaman memadai tentang aktivitas bisnis dan ekonomi untuk membuat keputusan investasi serta kredit;

2)      untuk membantu investor yang ada dan potensial, kreditor yang ada dan potensial, serta pemakai lainnya dalam menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian arus kas masa depan;

3)      tentang sumber daya ekonomi, klaimterhadap sumber daya tersebut, dan perubahan di dalamnya.

  • Tujuan(objectives) dimulai dengan lebih banyak berfokus pada informasi yang berguna bagi para investor dan kreditor dalam membuat keputusan. Fokus ini lalu menyempit pada kepentingan investor dan kreditor atas prospek penerimaan kas dari investasi mereka dalam, atau dari pinjaman yang telah mereka berikan ke entitas bisnis. Pada akhirnya, tujuan berfokus pada laporan keuangan yang menyediakan informasi yang berguna untuk menilai prospek arus kas yang akan diterima entitas bisnis yaitu arus kas yang menjadi harapan investor dan kreditor. Pendekatan ini dikenal sebagai kegunaan keputusan (decision usefulness).
  • Dalam menyediakan informasi kepada pemakai laporan keuangan, profesi akuntan mengandalkan laporan keuangan bertujuan-umum(general-purpose financial statement), yaitu menyediakan informasi paling bermanfaat dengan biaya minimal kepada berbagai kelompok pemakai

TINGKAT KEDUA : KONSEP-KONSEP FUNDAMENTAL

Karakteristik Kualitatif Informasi Akuntansi

Agar berguna dalam pengambilan keputusan (decision usefulness), informasi akuntansi harus memiliki dua kualitas yaitu kualitas primer dan kualitas sekunder. Tentu saja terdapat beberapa kendala untuk mencapai dua kualitas tersebut.

Kualitas Primer

Relevansi (relevance) dan keandalan (reliability) harus melekat pada informasi akuntansi.

1)      Relevansi. Agar relevan informasi akuntansi harus mampu membuat perbedaan dalam sebuah keputusan. Informasi itu mampu mempengaruhi pengambilan keputusan dan berkaitan erat dengan keputusan yang akan diambil, jika tidak berarti informasi tersebut dikatakan tidak relevan. Informasi  yang relevan harus memiliki nilai umpan balik (feed-back value), yakni mampu membantu menjustifikasi dan mengoreksi harapan masa lalu. Informasi juga harus memiliki nilai prediktif (predictive value) yakni dapat digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Selain itu kualitas relevan juga harus mempunyai substansi tepat waktu (timeliness). Informasi harus disajikan kepada para pemakai sebelum informasi itu kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi pengambilan keputusan.

 

2)      Keandalan. Informasi dianggap andal jika dapat diverifikasi,  netral, disajikan secara tepat serta bebas dari kesalahan dan bias (penyimpangan). Keandalan sangat diperlukan bagi individu-individu pemakai yang tidak memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi faktual dari informasi.

Realibilitas sangat diperlukan oleh individu-individu yang tidak memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi faktual dari informasi.

  • Daya Uji (verifiability): ditunjukkan ketika pengukur-pengukur independen, dengan menggunakan metode pengukuran yang sama, mendapatkan hasil yang serupa.
  • Ketepatan penyajian (representational faithfulness): angka-angka dan penjelasan dalam laporan keuangan mewakili apa yang benar-benar ada dan terjadi.
  • Netralitas(neutrality): informasi tidak dapat dipilih untuk kepentingan sekelompok pemakai tertentu. Info yang disajikan harus faktual, benar dan tidak bias

3)      Keberdayaujian (verifiability). Informasi harus dapat diuji kebenarannya. Dapat diujinya kebenaran informasi akuntansi berdasar pada keobyektifan dan konsensus. Contoh, keandalan informasi harga perolehan fixed assets harus diuji berdasar data masa lalu yang terekam pada faktur (keobyektifan). Tetapi keandalan informasi tentang depresiasi aktiva tetap itu adalah berdasarkan konsensusa mengenai metode depresiasi yang digunakan, taksiran nilai residu, dan taksiran umur ekonomis.

4)      Kenetralan (neutrality). Informasi akuntansi dimaksudkan untuk memenuhi tujuan berbagai kelompok pemakai. Oleh karena itu harus bebas dari usaha-usaha untuk memberikan keuntungan lebih kepada kelompok tertentu.

5)      Kejujuran penyajian (representational faithfulness). Penyajian yang jujur berarti adanya kesesuaian antara fakta dan informasi yang disampaikan.

 

Kualitas Sekunder

Kualitas sekunder yang harus dimiliki informasi akuntansi adalah keberdayabandingan  (comparability) dan konsistensi (consistency).

1)      Keberdayabandingan.  Informasi akuntansi akan lebih bermanfaat jika dapat dibandingkan antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain dalam satu industri (perbandingan horizontal) atau membandingkan perusahaan yang sama untuk periode yang berbeda (perbandingan vertikal). Jadi diperlukan standar dan ukuran tertentu.

2)      Konsistensi.  Sebuah entitas  dikatakan konsisten dalam menggunakan standar akuntansi apabila  mengaplikasikan perlakuan akuntansi (metode akuntansi) yang sama untuk kejadian-kejadian serupa, dari periode ke periode.

 

Kendala-kendala.

Terdapat  dua kendala yang mempengaruhi tercapainya kualitas informasi seperti yang telah dijelaskan, yaitu pertimbangan manfaat-biaya dan tingkat materialitas. Dua kendala lainnya yang kurang dominan tapi merupakan bagian dari lingkungan pelaporan adalah praktek industri dan konservatisme.

1)      Pertimbangan manfaat-biaya (cost-effectiveness). Untuk menghasilkan informasi yang relevan,andal, berdaya banding, dan konsisten dibutuhkan biaya yang mahal. Oleh karena biaya dan terutama manfaat tidak mudah diukur, maka mempertimbangkan hubungan manfaat-biaya menjadi masalah

2)      Materialitas (materiality) berhubungan dengan dampak suatu item terhadap operasi keuangan perusahaan secara keseluruhan. Suatu item akan dianggap material jika pencantuman atau pengabaian item tersebut mempengaruhi atau mengubah penilaian seorang pemakai laporan keuangan. Baik faktor-faktor kuantitatif maupun kualitatif harus dipertimbangkan dalam menentukan apakan suatu item material atau tidak.

3)      Praktik industri.(industry practices) Sifat unik dari sejumlah industri  dan perusahaan terkadang memerlukan penyimpangan dari teori dasar.

4)      Konservatisme (conservatism) berarti jika ragu, maka pilihlah solusi yang sangat kecil kemungkinannya dalam menghasilkan penetapan laba dan aktiva yang terlalu tinggi. Tujuan dari konvensi ini, jika diaplikasikan secara tepat adalah menyediakan pedoman yang paling rasional dalam situasi sulit : jangan menyajikan angka laba bersih dan aktiva bersih yang terlalu tinggi.

 

Elemen-elemen Laporan Keuangan.

SFAC No. 6 menetapkan sepuluh elemen utama laporan keuangan. Cakupannya bukan hanya perusahaan yang berorientasi laba, tetapi juga organisasi nirlaba. Elemen-elemen laporan keuangan bagi organisasi yang berorientasi laba meliputi 10 macam,  yaitu : aktiva, kewajiban, ekuitas, investasi oleh pemilik, distribusi kepada pemilik, laba komprehensif, pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian. Adapun bagi organisasi nirlaba ada 7 macam, yaitu : aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian.

 

TINGKAT KETIGA : PENGAKUAN DAN PENGUKURAN

Tingkat ketiga kerangka konseptual terdiri dari konsep-konsep yang dipakai untuk mengimplementasikan tujuan dasar dari tingkat pertama. Konsep-konsep ini menjelaskan apa, kapan, dan bagaimana unsur-unsur serta kejadian keuangan harus diakui, diukur, dan dilaporkan oleh sistem akuntansi.

 

Asumsi-Asumsi Dasar.

Asumsi-asumsi  menyediakan satu landasan bagi profesi akuntansi. Jadi, asumsi dasar akuntansi adalah anggapan-anggapan yang digunakan oleh para akuntan agar akuntansi dapat dipraktikkan.

a.               asumsi entitas ekonomi (economic entity assumption). Akuntansi memandang bahwa perusahaan merupakan unit yang berdiri sendiri dan terpisah dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan (pemilik, kreditor, karyawan, dan lainnya).

b. Kesinambungan (going concern). Sebagian besar metode akuntansi di dasarkan pada asumsi kelangsungan hidup yaitu perusahaan bisnis akan memiliki umur yang panjang.pengalaman mengindikasikan bahwa, meskipun banyak mengalami kegagalan bisnis, perusahaan dapat memiliki kelangsungan hidup yang panjang

c. Asumsi unit moneter ( monetary unit assumption). Akuntansi menggunakan unit moneter sebagai alat pengukur suatu obyek atau aktivitas perusahaan dan menganggap nilai uang adalah stabil dari waktu ke waktu.

d.               Asumsi periodisitas (periodicity assumption). Cara yang paling akurat untuk mengukur hasil operasi perusahaan adalah dengan mengukurnya pada saat perusahaan tersebut di likuidasi. Namun, pengambil keputusan tidak bisa menunggu selama itu untuk menerima informasi semacam itu. Asumsi periodisitas (periodicity assumption) atau periode waktu menyiratkan bahwa aktivitas ekonomi sebuah perusahaan dapat di pisahkan dalam periode waktu artifisial periode waktu ini bervariasi, tetapi yang paling umum yaitu secara bulanan, kuartalan dan tahunan

 

Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi

a.      Biaya historis (historical cost). GAAP mewajibkan sebagian besar aktiva dan kewajiban diperlakukan dan dilaporkan berdasarkan harga akuisisi. Kos(cost) memiliki keunggulan yang penting dibandingkan penilaian yang lainnya yaitu dapat diandalkan.

b.    Pengakuan pendapatan. Pendapatan umumnya diakui jika (1) telah direalisasi atau dapat direalisasikan dan (2) telah dihasilkan.

c.      Prinsip Penandingan (matching principle).  Beban  untuk suatu periode ditentukan dengan mengaitkannya dengan pendapatan tertentu atau dengan periode tertentu.. Beban diakui :

Þ    jika terdapat hubungan langsung atau sebab akibat dengan penjualan produk atau penyerahan jasa,

Þ    pada periode terjadinya, yakni pada saat kas dikeluarkan jika tidak terdapat hub. Langsung atau sebab akibat dengan penjualan produk atau jasa,

Þ    dengan alokasi yang sistematis dan rasional, jika butir 1 dan 2 tidak terpenuhi. Contoh: depresiasi.

d.     Prinsip Pengungkapan Penuh (full disclosure principle)

Mengakui sifat dan jumlah informasi yang dimasukkan dalam laporan keuangan mencerminkan trade off penilaian, seperti :

Þ    Hal-hal yang harus diungkapkan karena mempengaruhi keputusan pemakai

Þ    Kebutuhan untuk menyajikan secara penuh agar informasi dapat dipahami.

Catatan atas laporan keuangan umumnya ditujukan untuk memperkuat atau memperjelas pos-pos yang disajikan dalam bagian utama laporan keuangan.

 

MASALAH-MASALAH DALAM KERANGKA KONSEPTUAL

 

FASB mencoba menunjukkan masalah-masalah konseptual terpenting yang berkaitan dengan penetapan standar, yaitu :

Masalah 1 : Pandangan mengenai laba atau penghasilan mana yang harus digunakan?

Ada tiga (3) pandangan berbeda yang diidentifikasikan dalam penentuan laba atau penghasilan (earnings) :

  • Pandangan Aktiva/ Kewajiban atau Pandangan Neraca/Pandangan Pemeliharaan Modal

Berpendapat bahwa pendapatan dan beban hanya berasal dari perubahan dalam aktiva dan kewajiban. Pendapatan adalah peningkatan aktiva dan penurunan kewajiban sedangkan beban adalah penurunan aktiva dan peningkatan kewajiban.

Beberapa peningkatan dan penurunan dalam aktiva bersih dikeluarkan dari definisi penghasilan, yaitu, kontribusi modal, penarikan modal, koreksi atas pendapatan di periode-periode lalu, serta keuntungan dan kerugian akibat pemilik (holding gains and losses)

  • Pandangan Pendapatan/Beban atau Pandangan Laporan Laba Rugi/Pandangan Penandingan

Berpendapat bahwa adanya pendapatan dan beban dihasilkan oleh adanya kebutuhan akan penandingan yang tepat (proper matching). Laba pada dasarnya hanyalah selisih antara pendapatan di satu periode dengan beban yang terjadi untuk memperoleh pendapatan tersebut.

Penandingan, yang merupakan proses pengukuran fundamental dalam akuntansi terdiri atas :

1)      Pengakuan pendapatan atau waktu pengakuan melalui prinsip realisasi

2)      Pengakuan beban dengan tiga kemungkinan cara:

  • Mengasosiasikan penyebab dan dampaknya, seperti harga pokok penjualan
  • Alokasi yang sistematis dan rasional, seperti depresiasi (penyusutan)
  • Pengakuan langsung, seperti biaya penjualan dan administrasi.

Pandangan pendapatan/beban terutama menekankan pengukuran penghasilan perusahaan, dan bukannya kenaikan atau penurunan modal bersih. Aktiva dan kewajiban (termasuk yang ditangguhkan), dianggap sebagai nilai sisa (residu) yang harus dibawa ke periode-periode di masa depan untuk memastikan terjadinya penandingan yang tepat dan menghindari terjadinya distorsi keuntungan.

  • Pandangan Non-artikulasi

Didasarkan atas adanya kepercayaan bahwa artikulasi akan diikuti oleh redundansi (pencatatan yang berlebihan) karena seluruh peristiwa yang dilaporkan di laporan laba rugi juga dilaporkan di neraca, meski dari sudut pandang berbeda.

Pendapatan dan beban dapat mendominasi pengukuran penghasilan. Kedua laporan keuangan tersebut memiliki keberadaan dan arti yang saling independen. Karenanya, dapat digunakan skema-skema pengukuran yang berbeda untuk keduanya.

Salah satu contohnya dari pandangan non artikulasi ini adalah penggunaan metode LIFO di laporan laba rugi dan FIFO di neraca.

 

Jika artikulasi dapat dibuktikan sebagai suatu hal yang tidak hanya dibutuhkan namun ternyata juga menguntungkan, maka pilihan yang ada hanyalah antara pandangan aktiva/kewajiban atau pandangan pendapatan/beban. Pilihan diantara kedua pandangan ini tergantung pada pandangan yang mana yang merupakan proses pengukuran yang fundamental :

1) Pengukuran atribut-atribut aktiva dan kewajiban dan perubahan-perubahannya

à Penghasilan hanya merupakan konsekuensi dan akibat dari perubahan-perubahan tertentu dari aktiva dan kewajiban

2) Proses penandingan

à Perubahan yang terjadi dalam aktiva dan kewajiban hanyalah konsekuensi dan akibat dari pendapatan dan beban.

à Telah mengarah dengan diakuinya hal-hal seperti “beban yang ditangguhkan”, “kredit yang ditangguhkan”, dan “cadangan” dalam laporan posisi keuangan yang tidak mencerminkan sumber daya ekonomi dan kewajiban namun diperlukan untuk memastikan adanya penandingan dan penentuan laba dengan benar.

MASALAH 2-7 : DEFINISI

AKTIVA.

Definisi aktiva dari beberapa pandangan

  1. Pandangan Aktiva/Kewajiban

Menurut pandangan in, aktiva adalah sumber daya ekonomi dari sebuah perusahaan; mereka mencerminkan keuntungan di masa depan yang diharapkan menimbulkan  arus kas masuk bersih secara langsung maupun tidak langsung.

Sumber daya ekonomi sendiri antara lain :

  1. Sumber daya produktif perusahaan
  2. Hak-hak kontraktual untuk sumber daya produktif
  3. Produk
  4. Uang
  5. Klaim untuk menerima uang
  6. Kepemilikan saham di perusahaan lain
  7. Pandangan Pendapatan/Beban

Aktiva didefinisikan bukan hanya menurut pandangan aktiva saja, tapi juga hal-hal yang tidak mencerminkan sumber daya ekonomi dan diperlukan untuk penandingan yang benar dan penentuan laba.

  1. Aktiva sebagai bagian dari “laporan sumber dan komposisi modal perusahaan”. Menurut pandangan ini, aktiva membentuk “komposisi saat ini dari modal yang diinvestasikan”.

 

Karakteristik Umum Aktiva :

1)      Menggambarkan potensi arus kas yang akan diterima

2)      Keuntungan potensial yang diperoleh perusahaan

3)      Konsep legal dari harta kekayaan (properti) dapat mempengaruhi definisi akuntansi atas aktiva.

4)      Dapat diperoleh di masa lalu atau dari transaksi atau peristiwa saat ini.

5)      Dapat dipertukarkan.

 

Dari uraian di atas, definisi yang diperlukan hendaknya mampu memenuhi generalisasi penerapan yang diminta kerangka konseptual dan  memperhitungkan karakteristik berikut ini :

  • Aktiva hanya mencerminkan sumber daya ekonomi dan tidak termasuk “beban yang ditangguhkan”
  • Aktiva mencerminkan potensi arus kas bagi perusahaan
  • Aktiva mencerminkan hak legal yang mengikat kepada keuntungan tertentu, hasil-hasil dari masa lalu atau transaksi saat ini dan meliputi seluruh komitmen, seperti dalam kontrak pelaksanaan
  • Dapat dipertukarkan bukan merupakan karakteristik yang penting dari aktiva kecuali untuk “beban yang ditangguhkan” agar tetap memasukkan semua yang tidak berwujud sebagai aktiva dan tidak memasukkan beban yang ditangguhkan

 

KEWAJIBAN

  1. Pandangan Aktiva/Kewajiban

Kewajiban adalah keharusan perusahaan untuk mentransfer sumber daya ekonomi kepada entitas lain di masa depan.

  1. Pandangan Pendapatan/Beban

Kewajiban juga kredit-kredit yang ditangguhkan dan cadangan tertentu yang tidak mencerminkan kewajiban untuk mentransfer sumber daya ekonomi namun dibutuhkan untuk prinsip penandingan yang benar dan penentuan laba.

  1. Pandangan yang timbul dari persepsi neraca

Kewajiban terdiri atas sumber modal dan meliputi kredit yang ditangguhkan serta cadangan tertentu yang tidak mencerminkan kewajiban untuk mentransfer sumber daya ekonomi.

Karakteristik Umum Kewajiban :

  1. Pengorbanan sumber daya ekonomi di masa depan
  2. Mencerminkan tanggung jawab bagi satu perusahaan tertentu
  3. Kewajiban dapat dibatasi hanya berupa utang-utang sah (legal)
  4. Kewajiban terjadi dari transaksi atau peristiwa masa lalu atau yang terjadi saat ini

 

PENGHASILAN

  1. Pandangan Aktiva/Kewajiban

Peningkatan dari aktiva bersih perusahaan diluar beban-beban “modal”.

  1. Pandangan Pendapatan/Beban

Penghasilan diperoleh dari penandingan antara pendapatan dan keuntungan serta mungkin pula dari keuntungan dan kerugian.

Setiap komponen dari penghasilan (penndapatan, beban, keuntungan, dan kerugian) dapat didefinisikan sebagai berikut :

1) Pendapatan dan Beban

  • Menurut pandangan aktiva/kewajiban, pendapatan didefinisikan sebagai peningkatan  aktiva dan penurunan kewajiban yang tidak mempengaruhi modal.

Begitu pula beban, yang mencakup keuntungan dan kerugian, didefinisikan sebagai penurunan aktiva atau peningkatan kewajiban yang timbul dari penggunaan sumber daya ekonomi dan jasa selama satu periode tertentu.

  • Menurut pandangan pendapatan/beban, pendapatan, mencakup keuuntungan dan kerugian yang timbul dari penjualan barang dan jasa dan pertukaran aktiva selain dari persediaan, bunga, dan dividen yang diperoleh dari investasi dan peningkatan-peningkatan lain dari ekuitas pemilik selama satu periode diluar kontribusi dan penyesuaian modal.

Beban merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan pendapatan periode tertentu.

2) Keuntungan dan Kerugian

  • Menurut pandangan aktiva/kewajiban, keuntungan merupakan meningkatnya aktiva bersih di luar peningkatan dari pendapatan atau perubahan modal.

Kerugian merupakan menurunnya aktiva bersih di luar penurunan dari beban atau perubahan modal.

  • Menurut pandangan pendapatan/beban, keuntungan merupakan kelebihan penerimaan diatas harga perolehan dari aktiva  yang dijual.

Kerugian didefinisikan sebagai kelebihan di atas penerimaan yang dijual, dibuang, atau hancu sebagian karena kecelakaan.

3) Hubungan antara penghasilan dan komponen-komponen

  1. Laba = Pendapatan – Beban + Keuntungan – Kerugian
  2. Laba = Pendapatan – beban
  3. Laba = Pendapatan (termasuk keuntungan) – beban (termasuk kerugian)

4) Akuntansi Akrual

Hal-hal yang mendasari konsep akuntansi akrual :

  • Akrual adalah proses akuntansi yang mengakui peristiwa dan kejadian nonkas pada saat mereka terjadi atau dengan kata lain pengakuan pendapatan dan peningkatan aktiva yang berkaitan dengan pengakuan beban dan peningkatan kewajiban yang berkaitan dalam jumlah tertentu yang diharapkan akan diterima atau dibayarkan, biasanya dalam bentuk kas di masa depan.
  • Penaggguhan adalah proses akuntansi yang mengakui penerimaan kas saat ini sebagai kewajiban dan mengakui pembayaran kas saat ini sebagai aktiva dengan harapan akan terjadi dampak di masa yang akan datang.
  • Alokasi adalah proses akuntansi yang menempatkan jumlah tertentu menurut rencana atau rumus tertentu.
  • Amortisasi adalah proses akuntansi untuk secara sistematis memperkecil jumlah tertentu melalui pembayaran ataupun penghapusan secara berkala.
  • Realisasi adalah proses pengkonversian sumber daya dan hak-hak nin kas menjadi uang. Realisasi paling tepat digunakan dalam pelaporan akuntansi dan keuangan untuk merujuk kepada penjualan aktiva untuk mendapatkan sejumlah uang atau klaim atas sejumlah uang.

Pengakuan adalah proses pencatatan atauu pemasukan secara formal suatu hal dalam rekeningg dan laporan keuangan perusahaan